Mualaf Center Indonesia Berdaya Sendiri Membantu Para Mualaf

Ramadan 2015

Mualaf Center Indonesia Berdaya Sendiri Membantu Para Mualaf

Nograhany Widhi K - detikNews
Senin, 22 Jun 2015 13:08 WIB
Mualaf Center Indonesia Berdaya Sendiri Membantu Para Mualaf
(Foto: dokumen pribadi)
Jakarta - Berawal dari kelimpungan mencari guru untuk belajar agama setelah mualaf, Steven Indra Wibowo dan teman-temannya mendirikan Mualaf Center Indonesia. Hingga kini, Mualaf Center Indonesia mandiri dan berencana mendirikan rumah singgah.

"Kita bagi-bagi. Saya dan teman-teman mencari nafkah sendiri, kami sisihkan segini, kuenya cuma segini, ada berapa mualaf di situ, ya kita bagi rata," jelas Steven Indra Wibowo saat berbincang dengan detikcom di Blok M Plaza, Jakarta Selatan pada Senin (15/6/2015).

Mualaf Center Indonesia selama ini menjadi lembaga untuk saling belajar bagi para mualaf. Para pembina di sini selalu siap sedia melayani pertanyaan para mualaf setiap harinya. Pertanyaan para mualaf itu terkesan ringan namun sebenarnya perlu ditindaklanjuti.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita ngobrol, sharing, kadang-kadang kita terima pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari mualaf. Saya layani pertanyaan mualaf juga lewat handphone saya. Dia bilang punya masalah pencernaan, dia nggak bisa puasa, jadi dia harus bayar fidyah. Nah, fidyah itu dibayarkan pas Ramadan atau nggak? Pertanyaan umum sebenarnya, yang kalau Islam dari kecil di SMP pasti dapat dari gurunya. Yang tanya saya umurnya 40 kurang dikit," jelas pria 33 tahun itu memberikan contoh.

Steven dan para pembina Mualaf Center memang memanfaatkan teknologi, seperti WhatsApp dan milis untuk berkomunikasi menjawab pertanyaan-pertanyaan para mualaf. Selain melayani pertanyaan seputar agama Islam, Steven dan para pembina di Mualaf Center juga menampung para mualaf yang mengalami resistensi dari keluarganya.

"Selama ini mualaf kalau butuh shelter kita inapkan di rumah pengurus," tuturnya. Β 
Β 
Karena banyak mualaf yang mengalami resistensi dari keluarganya, maka pihaknya kini berencana mendirikan rumah singgah atau shelter bagi para mualaf. Rumah singgah ini akan bersifat rahasia, hanya diketahui segelintir pengurus saja. Pasalnya, para mualaf sering diancam macam-macam oleh keluarganya.

"Ini kita lagi mau bangun. Cuma lagi masih terkendala dana segala macam. Juga belum adanya donatur juga, dari lokal. Diupayain untuk ke Timur Tengah atau ke mana," jelas dia.

Apakah Mualaf Center pernah menerima bantuan dari badan zakat?

"Alhamdulillah belum. Karena takut juga pertanggungjawabannya. Mending apa yang kita keluarkan dari kantong kita sendiri," jawabnya mantap.

Apalagi dia mendapat nasihat dari guru yang membimbingnya, Syekh Abdurrahman Al Qadhy, agar jangan berharap pada manusia. Bila punya niat yang baik agar segera dijalankan. Syekh itu juga yang mendorongnya mendirikan lembaga tempat di mana mualaf bisa saling belajar.

"Dari Syekh saya bilang, jangan berharap sama manusia, dah, kamu berharap sama Allah saja. Walaupun kamu minta ngemis, kalau manusia nggak mau ngasih mungkin sempit, kamu mau apa? Ya bener," jelas dia.

Namun bila ada yang hendak menyumbang, Steven mempersilakan mengirimkan bantuannya ke rekening yang tercantum di situs Mualaf Center Indonesia.

"Makanya rekening yayasan itu saya cantumin di website doang, mualaf.com atau mualafcenter.com, taruh di situ doang. Saya nggak nge-share ke mana-mana segala macam seperti BAZIS atau apa, saya nggak taruh di mana-mana. Biar siapapun yang mau nyumbang silakan nyumbang ke situ. Kita fokus urusin mualaf saja," tutupnya. (nwk/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads