Tahun ini Ramadan jatuh pada musim dingin (winter), itu adalah suatu keberuntungan untuk kami kaum muslim di Melbourne, karena pada musim dingin matahari terbit pada 05.50 pagi dan tenggelam 17.07 sore dengan suhu udara sekitar 10 derajat Celsius.
Sebagai seorang istri dan ibu dari satu orang anak yang bekerja, saya perlu merencanakan menu berpuasa minimal satu minggu sebelumnya agar keluarga dapat menikmati hidangan lezat dan bergizi. Sebisanya saya berusaha untuk memasak masakan Indonesia seperti rendang, dendeng balado, sop buntut, sate ayam dan sebagainya juga untuk berbuka puasa hidangan seperti bubur ketan hitam, bubur sumsum, kacang hijau, bubur cendil jadi menu sehari-hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melani Mulia dan keluarga (Foto: dokumen pribadi) |
Tinggal di Melbourne, kota ke-2 terbesar di Australia mempunyai keberuntungan tersendiri bagi kita orang Indonesia yang tinggal di sini. Banyak supermarket Asia (Asian groceries) tersebar di kota-kota di Australia, ada juga supermarket Indonesia yang menjual semua bumbu-bumbu yang kita butuhkan. Tidak sering kita tidak menemukan bumbu Indonesia di sini.
Di tempat kerja, banyak orang yang mengerti tentang Islam, tentang Ramadan dan tentang puasa, tapi mereka tidak mengerti bagaimana kita dapat 'survive' untuk tidak makan dan minum (terutama minum). Meminta waktu untuk salat juga bukan masalah pada saat kerja karena pekerjaan saya tidak face to face dengan klien, kita dapat mengatur sendiri waktu kerja kita. Yah, kalian dapat mengatakan saya termasuk orang yang beruntung.
Teman-teman di kantor juga menyediakan Jelly Bean (permen) khusus untuk saya karena beberapa tahun yang lalu saya pernah pingsan di kantor karena tidak sahur. Pada saat itu mereka memaksa saya untuk memakan Jelly bean dan beruntung saya cepat sadar kembali. Pelajaran untuk saya, jangan pernah berpuasa tanpa sahur!
Di sini saya terbiasa melihat orang makan dan minum di depan kita saat kita berpuasa. Tidak ada perlakuan khusus untuk orang-orang yang berpuasa seperti di Jakarta. Semua berjalan seperti biasanya, dan pada akhirnya kita terbiasa.
Tapi tidak ada suasana yang bisa mengalahkan suasana saat kita berpuasa di Tanah Air, keluarga, suara azan dan sahur dari masjid, tarawih, buka bersama serta jajanan-janannya membuat saya selalu merindukan Jakarta saat Ramadan. Semoga suatu saat saya dan keluarga bisa merasakan beruasa Ramadan di Jakarta, Amin Ya Rabbal Alamin.
*) Melani Mulia adalah WNI yang sudah 15 tahun tinggal di Melbourne, Australia
Bagi Anda pembaca detikcom yang memiliki pengalaman berpuasa Ramadan di luar negeri seperti yang dituliskan di atas, bisa menuliskan dan mengirimkannya ke: redaksi@detik.com. Sertakan identitas lengkap, nomor kontak yang bisa dihubungi dan foto yang mendukung kisah Anda. (nwk/mad)












































Melani Mulia dan keluarga (Foto: dokumen pribadi)