Seorang pria paruh baya berjaket putih dan peci coklat terdiam ketika melihat segerombolan anak-anak menandatangani bentangan kain bertuliskan Mari Dukung Semarang Kota Layak Anak. Pandangannya kosong menerawang masa lalu ketika putrinya tewas di tangan perampok 6 tahun silam dan kasusnya hingga saat ini belum terungkap.
Pria bernama Sumarno (53) warga Jalan Gedongsongo Barat RT 8 RW 02 Manyaran, Semarang Barat itu matanya berkaca mengingat putrinya. Penyelenggara aksi yang mengenal Sumarno kemudian berbincang dan meminta agar ia membagikan kisahnya.
Sumarno bersedia dan meraih megaphone. Namun saat akan memulai berbicara, air matanya tak kuasa menetes dan ia berhenti beberapa saat. Bayang-bayang putri bungsunya, Ahuna Tri Lestari masih lekat di ingatannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah ibu Ahuna, Sumini meninggal, anak ketiga Sumarno itu diasuh oleh kakak iparnya bernama Sumiyem di Jalan Borobudur Utara Raya Kelurahan Kalipancur, Kecamatan Semarang Barat.
Peristiwa memilukan pun terjadi tanggal 2 Juli 2009, hari Kamis. Saat itu Sumiyem baru saja berhasil menjual tanah senilai Rp 125 juta dan membawanya ke rumah kemudian menyimpannya di bank. Sekira pukul 15.30, Sumiyem pergi ke pasar dan meninggalkan Ahuna yang saat itu berusia 12 tahun sendirian di rumah.
"Budenya pergi ke pasar, dia ditinggal sendiri. Kemudian rumah itu didatangi perampok dan tau-tau anak saya dibunuh," ujar Sumarno sembari mengusap air matanya.
Ahuna dibunuh dengan sadis, ia dicekik kemudian kepalanya dibenamkan ke air di bak mandi dan ditindih barbel seberat 20 kg. Korban pertama kali ditemukan oleh kakak korban, Tommi.
"Dicekik lehernya, dimasukkan ke dalam bak dan ditimpa barbel. Sudah langsung dibawa ke RSUP dr Kariadi Semarang tapi tidak tertolong," kata ayah tiga anak itu.
Saat itu pihak Polwiltabes Semarang (sekarang Polrestabes Semarang) dan Polres Semarang Barat (sekarang Polsek Semarang Barat) melakukan olah TKP dan segera melakukan penyelidikan.
Namun waktu terus berlalu dan belum ada perkembangan. Pihak keluarga terus menanyakan perkembangan kasus tersebut kepada polisi namun hasilnya nihil.
"Semua sudah diinterogasi. Saya selalu tanya selama enam bulan. Ada polisi yang bilang sampai 10 tahun pun pasti akan tertangkap. Sejak saat itu tidak ada informasi sampai sekarang, sudah enam tahun," tuturnya.
"Dulu pernah diberi tahu pelakunya lari ke Lampung. Baru-baru ini dari polisi, kenalan, bilang pelakunya ke Medan, polisi tidak ada biaya. Tapi saya tidak tahu benar tidaknya," imbuh Sumarno.
Hingga kini Sumarno masih berharap kepolisian segera menangkap pelaku pembunuhan putrinya karena hubungan keluarga semakin renggang karena ada saling tuduh.
"Budenya itu nuduh mantu (menantu) saya, katanya dapat petunjuk dari mimpi atau orang pintar gitu. Padahal saat kejadian mantu kerja, ada saksinya. Hubungannya jadi renggang, sama saya juga jadi renggang," ujarnya.
Sumarno ingin polisi di Semarang bisa gesit menangkap pembunuh anaknya seperti halnya polisi yang menangkap pembunuh Engeline di Bali. Ia mengaku teringat lagi peristiwa yang menimpa putrinya ketika mendengar kasus Engeline.
"Kasus Angeline itu mengingatkan saya sama anak saya. Saya lihat beritanya itu aparat langsung sigap dan menelusuri. Saya harap aparat kepolisian di sini juga bisa," tandasnya.
Cerita Sumarno itu cukup membuat pengunjung CFD yang mendengarkan langsung terdiam. Duta Perlindungan Anak Jawa Tengah, Dewi Susilo Budihardjo, mengaku terkejut dengan kisah tragis yang baru saja didengarnya itu.
"Saya terkejut kasus Ahuna muncul. Ternyata Angeline ada di kota ini. Saya percaya kepolisian mampu mengusut tuntas," tegas Dewi.
Kini Sumarno dan keluarganya hanya bisa menunggu perkembangan penanganan kasus tewasnya Ahuna dan mempercayakan penyelesaian ke kepolisian sepenuhnya.











































