Petasan tersebut dilemparkan oleh sejumlah PKL yang berdiri di sekitar area itu. Mereka adalah anak-anak muda tanggung yang biasanya menjual kopi keliling dan souvenir-souvenir di kawasan Monas.
Sejumlah polisi yang tengah duduk di Pos Polisi Monas Timur menegur pemuda tanggung itu. Mereka diminta untuk bubar dan tidak melakukan perbuatan yang memicu kerusuhan.
"Mana petasannya, sini. Jangan lempar-lempar petasan lagi," kata salah seorang anggota Brimob di Pospol Monas Timur, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (18/6/2015).
Polisi kemudian menyita petasan dari pemuda itu. Namun masih ada bunyi petasan dari sisi lain. Setelah diimbau polisi, akhirnya ledakan tersebut terhenti. Sekitar 100 meter dari pintu gerbang Monas Timur, tampak Satpol PP berjaga.
Sebelumnya, pada Rabu (17/6) petang, terjadi kericuhan antara PKL dengan Satpol PP yang berjaga di sisi Monas Timur. Kericuhan bermula dari provokasi para PKL yang meledakkan sejumlah petasan di kawasan tersebut.
Mereka memaksa masuk ke dalam kawasan Monas, lokasi yang terlarang bagi para PKL. Sejumlah petugas Satpol PP diserang oleh PKL menggunakan senjata tajam hingga menyebabkan salah satu dari mereka terluka, yaitu bernama Idris.
Kasatpol PP Jakarta Pusat, Yadi Rusmayadi mengatakan, saat ini kondisi Idris sudah membaik. Menurutnya, penyerangan semacam itu sudah kerap terjadi.
Menurutnya penyerangan yang dilakukan oleh PKL karena dilarang masuk ke Monas sejak hari Sabtu lalu. Seluruh pintu dikunci dan pengunjung hanya boleh masuk melalui pintu IRTI atau Lenggang Jakarta.
"Celah mereka untuk masuk ke dalam Monas sudah tidak memungkinkan, sehingga mereka terus berusaha memprovokasi petugas yang berjaga hingga terjadi pelemparan," katanya. (kff/vid)











































