Kapal menghilang dari radar pada Kamis (11/6) pukul 20.50 waktu setempat. Kapal tersebut membawa muatan kurang lebih 6.000 metrik ton BBM sejenis pertamax plus. Ada 22 ABK di dalamnya, termasuk di antaranya lima Warga Negara Indonesia.
Sepekan sebelumnya, kapal dari perusahaan yang sama namun dengan nama berbeda, Orkim Victory, juga dibajak. Bedanya, saat itu kapal dibebaskan pembajak pada keesokan harinya setelah muatannya habis dikuras.
Pejabat di kantor perdana menteri Malaysia, Datuk Seri Shahidan Kassim, mengatakan perairan yang berbatasan dengan perairan Indonesia, Malaysia dan Singapura itu memang dikenal sebagai sarang perompak. Namun sampai sejauh ini, belum ada permintaan tebusan.
"Tahun lalu, 10 kapal dibajak. Dan tahun ini, ada empat kapal, di luar Orkim Harmony," kata Shahidan.
Konjen RI di Johor Bahru Taufiqur Rijal menambahkan, kerap menerima laporan pembajakan kapal pembawa minyak, perompak yang ditangkap, bahkan ada beberapa yang berkomplot antara perompak dengan korban yang dirampok.
"Ini beberapa kali terjadi. Kalau laporan dari pihak keamanan laut Malaysia di Johor sudah beberapa kali terjadi. Sudah biasa terjadi," terang Taufiq saat dikonfirmasi detikcom.
Kadispenal Laksma Manahan Simorangkir sebelumnya mengatakan, pembajakan terhadap kapal Orkim Victory pada 4 Juni lalu, akhirnya bisa kembali namun muatannya sudah diambil pembajak.
"Orkim Victory yang dibajak itu kan bawa muatan bahan bakar, nah itu disedot, kapalnya ditinggal terus mereka (pembajak) lari. Saat itu dicari-cari juga nggak dapat, tap akhirnya kapalnya kembali setelah muatan dicuri. Balik ke Kuantan. Ini sama lagi, satu perusahaan juga kapalnya. Orang-orang (ABK) ikut hilang," kata Manahan.
(mad/nrl)











































