Devi merupakan anak seorang petani dan pedagang sayuran di sebuah desa di Ngawi, Jawa Timur. Mulanya dia bercita-cita sebagai TKW seperti teman-teman sekampungnya yang lain.
"Pas lulus SMK waktu mau jadi TKW katanya harus bisa bahasa Jepang dulu, saya enggak punya uang buat kursus bahasa Jepang. Akhirnya saya kerja di Magetan 1 tahun dan di situ saya mulai sadar kalau ingin mengubah nasib keluarga harus bisa sekolah tinggi. Lalu saya lulus dengan IPK 3,99," tutur Devi saat berbincang kembali dengan detikcom, Rabu (17/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski berasal dari desa, Devi sangat ingin menempuh studi di luar negeri untuk lebih membuka cakrawala pengetahuan. Adalah Australia dan Belanda yang menjadi tujuan dia.
"Ini saya masih mencoba untuk mendaftar beasiswa dari LPDP. Kemudian saya masih menunggu kedatangan Dubes Belanda untuk memberikan beasiswa Nuffic," ujar Devi.
Belanda menjadi negara tujuan studinya karena menurut dia hukum di Indonesia banyak mengacu dari negeri kincir itu. Dia berharap dapat lebih memahami seluk beluk hukum Belanda dan mengaplikasikan di Indonesia.
Sementara untuk Australia dia pilih karena di sana terdapat ilmu hukum bisnis internasional. Dengan demikian dia berharap mampu melengkapi kekurangan yang ada di dalam negeri.
Namun rupanya di sela penantiannya itu, Devi dibanjiri tawaran beasiswa dari berbagai pihak. Dia sangat bersyukur akan tawaran-tawaran tersebut.
"Ada tawaran beasiswa di UI, Unpad, lalu ada juga dari BNI untuk beasiswa di dalam atau luar negeri," sebut Devi.
Dirinya berangan untuk menjadi dosen setelah gelar master dia regkuh. Sehingga dapat mengubah nasib keluarganya.
Sempat pula terbersit untuk langsung terjun ke dunia kerja. Sehingga dapat langsung berpenghasilan demi mengumpulkan uang untuk operasi katarak ayahanda tercinta.
"Kalau tawaran pekerjaan sebenarnya juga sudah ada di kejaksaan, staf ahli DPR, pegawai bank, dan reporter," tutur Devi. Β
(bag/trq)











































