Meski begitu, Ical membantah bahwa islah ini bohong-bohongan. Menurutnya, semua kubu diajak bergabung bersama sesuai kepengurusan Munas Riau.
"Tidak lah. Tidak ada serangan. Semua diajak bergabung bersama-sama dengan putusan pengadilan dalam DPP Munas Pekanbaru," kata Ical di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (17/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang mengirim surat ke kapolri bukan Bali, tapi Pekanbaru (Riau). Bukan munas bali. Munas Bali dan Ancol dua-duanya belum disahkan," ujarnya.
Tim Penjaringan Partai Golkar sudah bertemu perdana pada Senin (15/6) lalu namun belum sepakat soal siapa yang meneken surat pencalonan. Ical tak berkomentar lebih lanjut soal penjaringan, namun dia berharap Golkar bisa tetap ikut Pilkada dalam satu kesatuan.
"Tentu kita mengharapkan bahwa Golkar ikut pilkada jadi satu. Kalau jadi satu, kita ikut," ucap Ical.
Sebelumnya, sejumlah pengamat politik punya pandangan bahwa islah ini tak sebenarnya untuk berdamai. Islah parsial ini semakin jelas sebagai sebuah kepalsuan, kalau tak mau disebut abal-abal.
"Ini islah palsu, demi kekuasaan pura-pura islah. Nanti hasil pemimpinnya juga palsu, tidak loyal ke rakyat tapi loyal ke salah satu kubu saja," kata pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio. (imk/trq)











































