Tak sedikit orang yang terpengaruh rayuan uang para politikus. Tetapi tidak bagi seorang Imam Syafii yang sehari-harinya bekerja menjadi tukang sampah di Setiabudi, Jakarta Selatan.
Bagi kebanyakan orang tentu akan menghindari sampah. Selain baunya yang tak sedap, sampah pun senantiasa menjadi sumber penyakit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belum lama ini saya melihat ada caleg yang bagi-bagi duit. Saya lihat dengan mata kepala sendiri dalam amplop putih berisi uang Rp 50.000 yang dibagi-bagi ke orang nongkrong," kata Syafii di Jl. Tangkuban Perahu, Kelurahan Guntur, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (6/3/2014).
Syafii tak menerima uang tersebut ketika ditawari karena dia yakin caleg yang membagi-bagi duit nantinya akan korupsi. Tapi bicara soal korupsi, rupa-rupanya si tim sukses caleg justru korupsi di tempat publik.
"Saya lihat itu uang juga dipotong sama pembagi uangnya masuk kantong. Jadi dikorupsi sama tim sukses sendiri," ungkap Syafii.
Maksud hati si caleg menggaet pemilih dengan politik uang, namun apa lacur dia pun ditikung oleh orang kepercayaan sendiri. Tapi di mata Syafii perilaku curang seperti itu tak ubahnya sampah masyarakat yang mengotori bangsa ini.
"Saya sih menampung semua sampah untuk diangkut, tapi kalau sampah masyarakat saya tidak mau angkut. Berat dosanya," ucap Syafii terkekeh membayangkan polah caleg yang menghalalkan segala cara.
Tentu Syafii enggan menyebut parpol asal si caleg. Tapi menurut pria yang mengenal setiap jengkal kelurahan itu, si caleg berasal dari partai yang memiliki basis masa kuat di Setia Budi.
Semangat kejujuran Syafii pun berbuah manis dengan sedikit demi sedikit mengumpulkan hasil untuk beli sepeda motor. Jika tugas mengumpulkan sampah sudah rampung, sesekali dia juga melayani jasa ojeg di wilayah Jakarta Selatan.
Meski hanya tukang sampah, kiprah Syafii sudah dikenal oleh dunia internasional. Adalah media Inggris, BBC Two yang memfilmkan perbedaan tukang sampah Indonesia dengan Inggris pada 2012 silam.
"Jujur saya masih berharap nanti di Indonesia manajemen sampahnya seperti di Inggris. Tukang sampah tidak perlu menarik gerobak berat setiap hari. Ada mobil operasional yang bersih," ungkap Syafii.
Saat Syafii difilmkan oleh BBC Two, dia pun disandingkan dengan tukang sampah asal Inggris Wilbur Remirez. Syafii pun tak dapat menyembunyikan rasa iri kepada Wilbur yang jauh lebih sejahtera meski satu profesi.
"Dari segi gaji saja sudah beda jauh. Padahal pekerjaan tukang sampah di Inggris lebih ringan daripada di sini. Masyarakat Inggris lebih gampang diatur untuk memilah-milah sampah. Kalau di sini sudah dikasih tempat sampah beda antara yang organik dan non-organik juga tetap saja dicampur," kata Syafii.
(bag/van)










































