Cerita lain muncul dari bilangan Bintaro, Jakarta Selatan. Waktu itu ada seorang pemuda bernama Tegus (21) yang duduk di posko pengamatan rel kereta api.
“Saya jadi penjaga perlintasan kereta di Bintaro ini sekitar sebulan lalu. Awalnya saya bukan di bagian ini, tapi di bagian rehabilitasi perlintasan,” kata Teguh di perlintasan Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan, Kamis (13/3/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tentu semua kita tak ingin jika itu terulang kembali. Peristiwa itu juga membuat Teguh merasa terpanggil untuk berbakti agar si ular besi dapat menjalankan tugasnya dengan baik tanpa hambatan.
Ruang tempat Teguh memantau lalu lalang si ular besi tak lebih dari 3 x 3 meter persegi saja. Sendiri dalam ruangan itu dia hanya ditemani pesawat telepon yang setiap kali memberitahukan posisi kereta yang akan melintas.
“Sejak peristiwa waktu itu ada banyak perubahan di KAI. Kami yang muda-muda diminta untuk menjadi penjaga perlintasan agar kejadian tidak terulang lagi. Termasuk membuat jalur ini hanya satu arah untuk kendaraan bermotor,” ucap Teguh menerangkan.
Dalam sehari dia bekerja selama 8 jam untuk kemudian berganti giliran rekannya. Dalam sekali giliran itu pula dia harus sigap dan awas untuk membunyikan sirine serta menurunkan palang sehingga kereta dapat melaju cepat tanpa khawatirkan sesuatu apapun.
“Tapi masih saja banyak pengendara yang nakal menerobos jalur satu arah ini. Padahal sudah ada tanda dilarang melintas di sana, mungkin mata mereka sudah kabur atau tak mengerti arti tanda itu,” ucap Teguh menunjuk rambu dilarang melintas.
Telepon berdering nyaring membuat Teguh berpaling ke situ kemudian menjawab panggilan tersebut. “Ya, baik. Laksanakan,” ujar dia singkat lalu menekan tombol sirine di belakang dia.
Tak lebih dari sedetik, tombol penurun palang pintu juga dia tekan. Kemudian dia bergegas ke luar gardu jaga itu dan membunyikan lonceng yang berjarak 2 meter dari gardu. Berdirilah dia dengan tegap melihat kalau-kalau ada pengendara nakal sambil meniup-niup peluit.
“Jresssssss…,” kereta Commuter Line melaju cepat tanpa terhambat kendaraan yang nyelonong.
“Sebelum di perkereta-apian saya menjadi kenek Metro Mini 71 jurusan Blok M – Bintaro. Tapi kemudian saya diajak ayah saya berbakti di kereta tahun 2011. Saya langsung mau saat itu karena kebetulan pekerjaan ini juga lebih menarik,” tutur dia setelah kereta berlalu dan palang pintu lintasan dinaikan.
Pada saat detikcom berbincang dengan Teguh waktu itu, gajinya tak lebih dari upah minimum regionel per tahun 2014. Tetapi upah itu tak menyurutkan niat Teguh untuk menjadi 'pahlawan masa kini' yang menyelamatkan nyawa banyak orang.
Masih panjang perjalanan Teguh menatap masa depan. Di awal langkahnya itu dia memilih berbakti demi keselamatan masyarakat sambil terus melanjutkan jenjang pendidikan perguruan tinggi.
Setelah lebih dari setahun berlalu, mungkin nasib Teguh sudah berubah. Tetapi mungkin pula dia masih setia pada pekerjaannya. (bpn/vid)











































