Acara yang dalam rangka Dies Natalis STIK dan HUT Bhayangkara ke 69 itu digelar di area PTIK, Jalan Tirtayasa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan mulai tanggal 13 Juni kemarin dan akan berakhir besok, (17/6). Namun uniknya, acara batu mulia ini mengangkat tema 'Fenomena Batu Akik dalam Perspektif Ilmu Kepolisian".
"Fenomena batu ini jadi ajang silaturrahmi. Kita pamerkan dari seluruh daerah, karena kita ingin ekspos batu nusantara ke dunia internasional, karena sangat berpotensi untuk bersaing di kancah internasional," ujar ketua panitia acara bernama Adam saat ditemui detikcom di lokasi, Selasa (16/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang dilihat ya kualitasnya, kejernihannya. Sudah ada 300an yang mendaftar" ujarnya.
Batu akan dilombakan sesuai dengan jenis atau tingkat kelasnya. Seperti Bacan, Sungai Daerah, Pandan, Lumut Aceh, Bio Solar, Chalcedony, dan Djunjung Drajat. "Pemenang akan diumumkan besok sore (17/6)," ujarnya.
Sementara itu, seorang Staf PTIK yang enggan disebutkan namanya mengatakan, tema 'Fenomena Batu Akik dalam Perspektif Ilmu Kepolisian' diambil karena acara ini menyoroti dampak fenomena akik di masyarakat. Baik dampak positif maupun negatif.
"Kayak di Aceh kan pernah ada rebutan itu, mengaku-ngaku 'punya saya' punya saya. Jadi ini untuk mengantisipasi dampak hukum. Selain hukum, akik ini juga berdampak pada sosial. Seperti contohnya dulu dia preman, sekarang jadi terlibat di Akik yang positif," kata perwira menengah tersebut.
"Jadi perspektif kepolisiannya itu, hukum dan sosial," sambungnya. Pemenang kontes ini akan diikutkan dalam ajang Presiden CUP 2015.
Selain itu, malam nanti, pukul 19.00 WIB, juga akan digelar Talkshow mengenai fenomena batu akik dengan pembicara, Kepala Prodi PTKI Kombes Chrisnanda, Profesor Hermawan Sulistyo, dan Ki Joko Bodo. (idh/dra)











































