Meriahnya Dugderan, Perayaan Menyambut Ramadan yang Berusia 134 Tahun

Meriahnya Dugderan, Perayaan Menyambut Ramadan yang Berusia 134 Tahun

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Selasa, 16 Jun 2015 15:14 WIB
Meriahnya Dugderan, Perayaan Menyambut Ramadan yang Berusia 134 Tahun
(Foto: Angling Adhitya P/detikcom)
Semarang - Karnaval Dugderan kembali digelar di Semarang, kali ini acara menyambut bulan puasa itu diikuti 9.000  peserta. Meski demikian Dugderan kali ini tidak diawali dengan pasar Dugderan karena Pasar Johar Semarang dilanda kebakaran besar akhir April lalu.

Meski demikian karnaval Dugderan yang menampilkan ikon Warak Ngedhok tetap semarak. Dimulai dari halaman Balai Kota Semarang di Jalan Pemuda dengan prosesi upacara berbahasa jawa. Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, menjadi inspektur upacara selaku Kanjeng Bupati Raden Mas Tumengung Arya Purbaningrat.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, peserta menampilkan tari-tarian sambil membawa Warak Ngendhog dari kayu warna-warni. Setelah itu Hendrar memukul bedug tanda karnaval dimulai sekitar pukul 14.00.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Barisan peserta karnaval yang memakai atribut atau kostum menjadi daya tarik karnaval. Sejumlah boneka Warak Ngendhok dan Kembang Manggar dari kertas dan lidi. Atraksi marching band dari siswa-siswa sekolah Semarang turut meramaikan suasana.

Rombongan berjalan sepanjang Jalan Pemuda yang sudah dipenuhi warga yang ingin menyaksikan karnaval sampai ke Masjid Agung Semarang Kauman. Di barisan karnaval paling belakang ada pejabat-pejabat yang menaiki kereta kuda di awali kereta kencana yang ditumpangi Hendrar dan istrinya.

Saat ini rombongan masih berjalan dan nantinya di Masjid Agung Semarang, dilakukan pembacaan Sukuf Qolakho Halaqhoh, penabuhan bedug diiringi bunyi meriam, pembagian air Alquran. Ada juga pembagian kue ganjel rel yang berjumlah 8 ribu kue. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung Jawa Tengah untuk prosesi penyerahan Sukuf Qolakho Halaqhoh kepada Gubernur Jawa Tengah selaku Raden Mas Tumenggung Probohadikusumo.

Sejarah tradisi Dugderan berawal ketika Pemerintah Kanjeng Bupari RMTA Purbaningrat memberanikan diri menentukan awal puasa tahun 1881 dengan membunyikan Bedug Masjid Agung dan meriam. Suara bedug dan meriam "dug..dug..der..der..der" menjadi awal nama Dugderan.

Tradisi memasuki bulan Ramadan itu menarik minat pedagang untuk menggelar pasar yang kemudian menjadi tradisi selama seminggu sebelum hari pertama pertama puasa.

Biasanya pasar Dugderan dihiasi dengan berbagai wahana permainan seperti di pasar malam yang digelar di depan Pasar Johar. Namun Pasar bersejarah tersebut belum lama ini habis dilalap api sehingga pasar Dugderan ditiadakan dan diganti dengan lomba Warak Ngendhok yang digelar tanggal 9 Juni dan lomba Rebana 10 Juni lalu. (alg/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads