Dua karya besarnya yang terkenal dan brilian adalah ilmu trigonometri dan geometri bentuk bola. Sayang keberhasilannya 'membongkar' rahasia langit tak disertai dengan keberhasilan di bidang politik. (baca juga: Melihat Astronom Islam Abad 14 'Membongkar' Rahasia Langit)
Pada 21 sampai 22 Mei 2015 lalu detikcom berkesempatan menyusuri profil dan jejak-jejak karya sang astronom di Samarkand, kota terbesar kedua di Uzbekistan. Seperti apa profil Ulugh Beg?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keluarga Amir Timur berasal dari suku Mongol Barlas dari Transoxiana yang kini dikenal sebagai Uzbekistan. Sementara sang istri adalah seorang bangsawan Goharshad dari Persia.
Sejak usia belia ulugh Beg sering ikut sang kakek untuk mengembara memperluas daerah kekuasaan hingga Timur Tengah dan India. Setelah Amir Timur meninggal dia kemudian kembali ke Samarkand, pusat pemerintahan kerajaan Timurid kala itu.
Ketika usia menginjak 16 tahun yakni tahun 1410 Ulugh Beg diangkat menjadi gubernur di Samarkand. Satu tahun kemudian dia menjadi penguasa penuh seluruh Mavarannahr yang wilayahnya meliputi Uzbekistan, Tajikistan, dan sebagian Kazakhstan.
Dibanding berpolitik, Ulugh Beg lebih tertarik mendalami dan mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan kepada penduduk Samarkand. Penguasa berusia belia ini pun berhasil mengubah kota Samarkand menjadi sebuah pusat intelektual bagi kerajaan.
Tahun 1417-1420 dia membangun sebuah madrasah (kini universitas) untuk mencetak astronom-astronom dan matematikawan Islam. Sisa-sisa bangunan madrasah yang didirikan Ulugh Beg masih bisa dilihat sampai sekarang. Bangunan itu berdiri di Registan Square, yang saat ini digunakan sebagai pusat kegiatan kebudayaan Samarkand.
"Pada saat-saat tertentu di sini (Madrasah Ulugh Beg) diadakan pentas teater," kata pemandu bernama Mursyid saat detikcom mengunjungi Madrasah Ulugh Beg pada Jumat (22/5/2015) lalu.
Dari madrasah inilah lahir astronom-astronom Islam yang terkenal pada abad 14. Dari sini pula beberapa buku (kitab) karya Ulugh Beg dan murid-muridnya disusun. Salah satunya adalah kitab Zij-i-Djadid-I Sultani. Beberapa hasil karya Ulugh Beg dan murid-muridnya juga sudah diterjemahkan oleh astronom-astronom Inggris dan Prancis beberapa ratus tahun kemudian.
Sayang kecerdasan Ulugh Begh menguasai astronomi dan matematika tak diiringi kepiawaianya dalam mengelola pemerintahan seperti mendiang sang kakek Amir Timur. 'Pembongkar' rahasia langit itu gagal berpolitik.
Tentara Ulugh Begh banyak mengalami kekalahan dalam berbagai pertempuran melawan musuh-musuhnya. Bahkan satu-satunya raja yang juga ilmuwan itu harus mengakhiri hidupnya di tangan anaknya sendiri, Abdul Latif. Ulugh Begh yang berarti 'Penguasa Agung' dan penebar kasih tewas dihabisi Abdul Latif dalam perjalanan menuju Makkah. (erd/nrl)










































