"Dia emosi, dia kesal karena diceraikan istrinya," ujar anggota reskrim Polsek Majalengka, Brigadir Rudi, saat dikonfirmasi, Selasa (16/6/2015).
Namun Rudi tidak mau jelaskan secara detail, kenapa Wawan begitu emosi ketika digugat istrinya. Menurut Rudi, alasan Wawan marah karena digugat cerai sangat personal sekali, sehingga tidak dapat dipublikasikan ke umum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wawan yang juga seorang pedagang, menurut Rudi, tidak ada niat mau melakukan aksi penyerangan di Pengadilan. Celurit yang dibawa Wawan, dijelaskan Rudi hanya untuk action saja.
"Sampai pemeriksaan saat ini, dia bawa celurit bukan untuk membunuh. Hanya untuk ancaman saja," ucap Rudi.
Penamparan itu terjadi di PA Majalengka, Senin (15/6) kemarin. Euis menggugat cerai Wawan karena Wawan suka berjudi dan banyak utang. Sesaat sebelum sidang dibuka majelis hakim, Wawan menghampiri Euis dan menampar hingga Euis terjatuh. Majelis lalu melerai dan meminta Wawan mundur. Bukannya mengikuti perintah majelis hakim, Wawan kembali memukul istrinya.
Setelah itu, Wawan ambil langkah seribu lewat pagar belakang. Satpam yang mendengar kegaduhan ini lalu mengejar Wawan. Saat meloncati pagar pengadilan, Wawan terjatuh. Satpam kemudian mengamankan dan menggeledah tas yang ternyata berisi sebuah celurit.
Kasus kekerasan ini mengingatkan kasus di PA Batam, pekan lalu. Saat itu Rahmat menusuk istrinya, Sri, dan kakak istrinya, Umi, di ruang tunggu. Akibatnya, Umi tewas seketika. Rahmat yang tertusuk kena pisaunya sendiri juga ikut tewas sehari setelahnya. (rvk/asp)











































