Suci adalah anak ke dua dari tiga bersaudara pasangan Sucipto Sumaryo (50) dan Salimah (46). Ia sudah berkeinginan kuliah sejak bersekolah di SMKN 1 Bawang, Banjarnegara, Jawa Tengah, namun ayahnya yang bekerja sebagai buruh bangunan dan serabutan membuatnya bimbang.
"Ya, bapak dulu khawatir tidak bisa membiayai kalau saya kuliah," kata Suci kepada detikcom, Selasa (16/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pas di SMK, guru-guru mendukung dan mendorong saya ikut Bidikmisi. Alhamdulillah SNMPTN saya lolos," pungkasnya.
Dengan program Bidikmisi tersebut, biaya kuliah dan tinggal di Semarang ditanggung pemerintah. Dengan dukungan orang tua, Suci meninggalkan rumahnya di Desa Sidarata RT 1 RW 6, Kecamatan Punggelan, Banjarnegara untuk kuliah di Semarang.
Di Unnes, Suci masuk pada Prodi Akuntansi. Ia menjalani perkuliahan selama 3 tahun 7 bulan. Dara kelahiran 12 Juli 1992 itu juga aktif mengikuti organisasi kampus dan membantu penelitian dosen atau menjadi asisten laboratorium, dan juga menjadi layouter artikel mahasiswa.
"Bidikmisi itu sebulan dapat Rp 1 juta, untuk kos Rp 600 ribu, Rp 400 ribu biaya pendidikan. Ya sambil bantu-bantu dosen, nge-layout jurnal, dapat fee," ujarnya.
Selama kuliah, Suci jauh dari orang tua dan keluarga, sebulan sekali dia melepas rindu dengan pulang ke kampung halaman. Orang tuanya tidak bisa menjenguknya ke kos di dekat kampus karena masalah biaya.
"Sebulan sekali pulang. Bapak sama ibu tidak pernah ke sini, ya baru pas wisuda kemarin karena diundang pak Rektor," pungkasnya.
Dengan kegigihannya dan keinginan mengubah nasib keluarga, Suci akhirnya lulus cumlaude dengan IPK 3,94 dan menjadi yang tertinggi dari 1.254 Sarjana S1 lainnya pada Sidang Terbuka Wisuda Unnes Periode II Tahun 2015 yang digelar Senin (15/6) kemarin.
Namun, lulus S1 bukan berarti Suci berhenti meraih mimpi, ia ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi demi cita-citanya mengajar di perguruan tinggi. Kini ia sedang mencari informasi beasiswa untuk melanjutkan langkahnya.
"Saya ingin kuliah lagi S2 kalau bisa yang disambi kerja. Ini masih cari beasiswa, mungkin LPDP, ini lagi mempersiapkan persyaratan. Cita-cita ingin jadi pengajar di perguruan tinggi sama berwirausaha," katanya.
Bagai gayung bersambut, Rektor Unnes, Prof Fathur Rokhman juga menawarkan jika pendidikannya sudah selesai, maka bisa kembali ke almamaternya di Unnes untuk menjadi tenaga pengajar.
"Ditawarin Pak Rektor mengajar di almamater, pas sekali sama cita-cita saya," tutur Suci.
Sementara itu Prof Fathur mengatakan pihaknya memberikan apresiasi terhadap keberhasilan Suci menjadi lulusan terbaik dengan nilai yang tinggi. Pihaknya mendukung Suci menempuh pendidikan lagi antara lain dengan tes TOEFL gratis jika ingin lanjut ke luar negeri dan memberikan rekomendasi ke universitas-universitas.
"Kita dorong dengan rekomendasi. Kalau lulus syukur-syukur bisa kembali lagi ke sini jadi dosen," pungkasnya.
Sebagai penghargaan, Rektor Unnes juga memberikan pekerjaan kepada ayah Suci, Sucipto yang selama dua bulan ini menganggur. Sucipto diperbolehkan bergabung dalam proyek pembangunan Unnes yang dibiayai Islamic Development Bank.
"Saya tidak menyangka (Suci lulus terbaik), soalnya saya cuma kuli, dulunya takut tidak bisa membiayai. Setelah tahu masuk lewat SNMPTN senang sekali," kata Sucipto. (alg/rul)











































