Yuddy mengatakan, sejak awal pemberitaan mengenai hilangnya Angeline, dirinya langsung terdorong untuk mencari tahu. Dia pun sempat mendatangi kantor polisi dan rumah Margriet, tempat Angeline tinggal.
"Saya dari awal datang ke kediaman tempat Angeline tinggal dengan satu firasat yang kuat, 'ada yang tidak beres ini'. Masa 19 hari dilaporkan hilang tapi belum ketemu juga," kata Yuddy saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari kecurigaan itu, saya inisiatif datang ke Polda untuk meminta Polda Bali mengambil alih kasus ini. Akhirnya setelah melakukan pencarian, ternyata ditemukanlah Angeline di dalam rumah itu," kata Yuddy.
Lalu apa alasan Yuddy terlibat aktif dalam pengusutan kasus ini? Di mana diketahui kementerian yang dipimpinnya tidak ada kaitannya perlindungan anak.
"Ini adalah panggilan kemanusiaan. Inisiatif pribadi saya saja," jawab Yuddy.
Yuddy juga mengatakan, dirinya mengirimkan staf pribadinya yang merupakan seorang dokter untuk ikut mengawal proses autopsi. Dia juga mengirimkan seorang pengacara untuk mendampingi ibu kandung Angeline dalam kasus kematian Angeline.
"Saya kirimkan staf pribadi saya, seorang dokter untuk mengawal autopsi Angeline dan pengacara untuk mendampingi ibu kandungnya. Ini semata-mata demi kemanusiaan," katanya.
"Biaya-biayanya juga pribadi semua. Saya sudah bicara langsung dengan ibu kandungnya Angeline, jangan pikirkan biaya otopsi, visum segala macam. Ada teman-teman saya di sana, staf pribadi saya yang akan mendampingi dan mengurus sampai selesai," tambah Yuddy. (jor/ega)











































