Peristiwa bermula saat rombongan santri ponpes Yaa Sunnah tiba di pantai Parangtritis menggunakan bus sekitar pukul 14.30 WIB, Senin (15/6/2015). Seperti lazimnya wisatawan, rombongan yang semuanya laki-laki ini kemudian menuju bibir pantai.
Melihat banyak wisatawan yang mandi di laut, dua santri yakni Akbar Putra Utama (18) dan Rofiqin terpancing ikut turun ke laut. Tak mengetahui keberadaan palung (cekungan) di sekitar lokasi, keduanya tiba-tiba terseret ombak besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu Rosyid tersadar keduanya tergulung ombak saat melihat tangan kedua sahabatnya itu melambai-lambai sambil berteriak minta tolong.
"Saya seketika berenang mendekat dan berhasil meraih tangan Rofiqin. Pas saya tarik (Rofiqin) itu, Akbar saya lihat berpegangan di kaki Rofiqin," katanya.
Melawan derasnya ombak, Rosyid akhirnya berhasil berenang ke tepian dan mencapai bibir pantai. Namun ia terkejut karena Akbar tak terlihat bersama Rofiqin.
"Kaget pas saat sampai tepi. Akbar ternyata tidak terlihat lagi. Tadi Rofiqin sempat terlihat panik, jadi mungkin saat itulah pegangan Akbar di kakinya lepas," tambahnya.
Akbar akhirnya berhasil ditemukan setelah Tim SAR Parangtritis yang menerima laporan, turun tangan. Namun, remaja asal Palembang ini sudah dalam kondisi tak bernyawa.
"Setelah kita lakukan pencarian sekitar 30 menit, korban ditemukan meninggal sekitar 200 meter dari bibir pantai," kata Sekretaris SAR, Taufik Faqih Usman.
Siswa yang baru saja naik kelas tiga ini selanjutnya dievakuasi ke posko SAR. Rencananya, jasad korban akan langsung dibawa pulang ke pesantren malam ini. (rul/try)











































