Genderang Perang di Tengah Islah Golkar

Golkar Pecah

Genderang Perang di Tengah Islah Golkar

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Senin, 15 Jun 2015 17:30 WIB
Genderang Perang di Tengah Islah Golkar
Jakarta - Dimediasi oleh Wapres Jusuf Kalla, Kubu Aburizal Bakrie dan Agung Laksono cs sepakat untuk islah parsial demi Golkar ikut pilkada. Namun islah itu memang benar-benar parsial, bahkan masih menyisakan genderang perang yang sewaktu-waktu bisa memantik ulang saling serang dua kubu.

Awalnya islah berjalan lancar, kedua kubu menyepakati membentuk tim penjaringan untuk memilih calon kepala daerah. Namun setelah putusan PTUN dan putusan sela PN Jakut memenangkan Aburizal Bakrie dan menyatakan yang berlaku saat ini adalah Golkar hasil Munas Riau, rupanya Golkar kembali meradang.

Jajaran pengurus Golkar hasil Munas Bali pimpinan Aburizal Bakrie seolah tak rela islah digelar. Merasa menang mereka pun mulai melempar duri tajam ke Agung cs, belakangan Aburizal bahkan menggelar Rapimnas sekaligus menegaskan kepemimpinannya sebagai Ketum Golkar hasil Munas Riau sampai kini masih sah. Sejumlah pengurus Golkar yang sudah bergeser ke kubu Agung diundang, Priyo Budi Santoso dan Mahyudin hadir di Rapimnas yang digelar akhir pekan lalu itu.

Dalam forum Rapimnas itu Ical meminta Agung cs tak terus bergerilya. Ical bahkan mengirim surat ke Kapolri agar menghentikan semua kegiatan Golkar kubu Agung. Namun Kapolri tak mengabulkan permintaan Ical dengan alasan menunggu proses gugatan hukum inkrah.

Sementara itu Ical cs kembali menggelorakan genderang perang. "Genderang Perang Golkar: Surat Ketua Ketua Umum Partai Golkar ARB kepada Kapolri untuk melarang Agung Laksono dkk beraktivitas atas nama Partai Golkar adalah awal dari perlawanan tiada henti terhadap oknum PG dan Oknum pemerintah dari partai tertentu yang ingin menghancurkan Partai Golkar melalui rekayasa konflik internal," kata Bendahara Umum Golkar hasil Munas Bali Bambang Soesatyo dalam siaran pers, Senin (15/6/2015).

Surat Ical kepada Kapolri itu menjadi semacam langkah awal dari dimulainya rangkaian perlawanan tiada henti terhadap oknum partai Golkar yg dikendalikan oleh oknum pemerintah dari partai tertentu yang ingin menghancurkan Partai Golkar. Perlawanan itu tentu dengan cara-cara beradab dan bukan dengan tindakan anarkis. Kita menempuh proses hukum demi ketertiban umum.
Β 
"Rapimnas Partai Golkar juga menegaskan perlawanan itu bukan untuk mengalahkan pemerintahan Presiden Joko Widodo. Tapi, perlawanan terhadap kesewenang-wenangan kekuasaan. Partai Golkar yakin pada saatnya akan mampu menyelesaikan persoalannya sendiri. Kalau sekarang keadaannya terkesan rumit, itu karena ulah oknum pemerintah yang juga petugas partai, yang diduga sedang melaksanakan misi menghancurkan partai Golkar melalui konflik internal. Itulah yang akan kami lawan sebagai musuh bersama sampai kapanpun," katanya.

Namun demikian ironisnya genderang perang tersebut ditabuh saat kesepakatan islah masih berjalan. Bahkan malam nanti tim perumus dari kedua kubu akan berunding soal calon kepala daerah yang bakal diusung di pilkada serentak. Lalu kenapa pula ada istilah islah kalau ternyata belum ada yang mau mengalah?

(van/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads