Salah warga yang sukses melewati masa 'transisi' adalah Wahyuningsih, warga Jl Putat Jaya IV, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya. Perempuan yang dibiasa disapa Yayuk ini memulai kelompok usaha dengan membuat keripik samiler.
Saat Dolly masih jaya, Yayuk berjualan warung makanan. Pelanggannya adalah para PSK, mucikari, dan pria hidung belang. Dalam sehari, ia mampu menghabiskan beras 20 kg/hari.
"Kalau setelah penutupan, jangankan 2 kg beras. 1 kg beras itu bisa sampai dua hari baru habis," ungkap Yayuk kepada detikcom, Senin (15/6/2015).
Meski demikian, Yayuk mendukung penutupan Dolly. Psikologis 2 anak perempuannya tidak terganggu lagi. Sebab, dulu tiap sekolah, anak Yayuk selalu menjadi bahan olok-olokan teman-temannya karena tinggal di lokalisasi.
"Tapi saya selalu berpesan ke keduanya, jangan pernah menoleh kanan-kiri (wisma), kalian sekolah saja selama kedua orangtuamu mampu membiayai. Biar teman-temanmu bilang kamu anak lokalisasi, tunjukkan kalau kalian berprestasi," ujar Yayuk sambil mengusap air mata.
Kedua anak Yayuk saat ini kuliah di ITS Teknik Perkapalan semester 6 dan SMA. "Sekarang mereka bisa bilang dengan bangga kalau rumahnya bukan lagi tempat lokalisasi, karena sudah ditutup," imbuh Yayuk sambil menghela napas.
Setelah penutupan Dolly pertengahan Juni 2014, Yayuk mengikuti pelatihan yang diberikan sekelompok mahasiswa. Kemudian, ia menggandeng 5 tetangga sebagai anggota kelompok usahanya.
"Dari pelatihan itu, saya mendapat kompor, wajan, sotil dan penyaring keripik dan modal awal 1.000 lembar samiler," ungkapnya.
Dengan ketekunannya, Yayuk cs tiap hari kewalahan memenuhi order keripik samiler yang dijual Rp 6 ribu per bungkus. "Ini baru tiga bulan berjalan, dan tiap hari mendapat order 50 bungkus dari sebuah toko serta 100 bungkus untuk dijual di pusat oleh-oleh," lanjutnya.
Alasan kewalahan, kata Yayuk disebabkan, penggorengan samiler tidak bisa dilakukan sembarang agar tidak pecah dan mutu, kualitas serta rasa keripik produksinya tetap terjaga.
"Kalau apinya terlalu besar tidak mengembang, kemudian terlalu keras membalik pecah. Makanya kita menggunakan kompor minyak tanah yang kecil," kata Yayuk.
Di awal-awal usaha, Yayuk hanya mendapatkan pesanan 10 bungkus. Namun perlahan, ordernya meningkat. Saat ini omzetnya Rp 300 ribu/hari. Dia bersyukur, setelah penutupan Dolly, dia bisa bangkit seperti warga lainnya.
(ze/try)











































