Satpol PP Kota Surabaya bekerjasama dengan Polrestabes serta Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan terus melakukan razia kawasan 'merah' tersebut untuk cegah adanya praktik prostitusi yang bermetamorfosis.
Kepala Satpol PP Kota Surabaya, Irvan Widyanto mengatakan pihaknya bersama jajaran samping, Polrestabes Surabaya, Garnisun Tetap III Surabaya serta Linmas sejak penutupan pihaknya berhasil menemukan belasan wanita harapan lokalisasi yang sudah menerima uang kompensasi namun masih melakukan praktik prostitusi.
"Terus kita razia secara rutin dan terus menerus. Ada 12 wanita harapan yang kita amankan di rumah kos dan mereka sudah ambil uang kompensasi," kata Irvan kepada detikcom, Senin (15/6/2015).
Selain razia rutin, upaya mencegah terjadinya praktik prostitusi di lokalisasi Dolly dan Jarak, pihaknya juga membuat posko terpadu di eks Wisma Barbara 2 yang dibeli Pemkot senilai Rp 9 miliar.
"Petugas gabungan di posko terpadu setiap hari melakukan pengawasan serta merazia dengan tujuan benar benar upaya alih fungsi tercapai," ungkap dia.
Dua bulan terakhir, kata Irvan, pihaknya juga menggandeng BNN Provinsi Jawa Timur untuk melakukan razia bersama di rumah kos yang ditengarai sebagai tempat prostitusi terselubung di sekitar kawasan lokalisasi.
"Selain yustisi, BNNP akan memberlakukan tes urine bagi pemilik kamar kos," lanjut dia.
Hasilnya, seorang wanita harapan tertangkap dan usai di tes darah, positif terjangkit HIV/AIDS.
Mantan Kabag Pemerintahan Kota Surabaya ini menambahkan, penutupan juga berdampak terhadap perilaku anak di bawah umur lokalisasi yang kerap terjaring razia di kafe-kafe.
"2-3 tahun sebelum ada rencana penutupan, kita sering melakukan razia kafe-kafe serta tempat dugem di sekitar lokalisasi. 40-50 persen yang terjaring masih anak anak dari lokalisasi," ungkap Irvan.
Irvan yang pernah menjabat Camat Rungkut mengaku sangat bersyukur, sejak ditutupnya lokalisasi yang konon terbesar di Asia Tenggara itu, saat merazia tempat dugem dan cafe pihaknya tidak lagi mendapati anak-anak yang berasal dari lokalisasi.
"Ada beberapa tapi kecenderungannya menurun. Bahkan 4 bulan terakhir kita tidak pernah mendapati anak-anak dari lokalisasi yang terjaring razia," pungkas dia.
(ze/try)











































