Letusan yang ada di Jatim itu sempat membuat abu vulkanik 'berjalan-jalan' sampai ke Solo yang ada di Jawa Tengah. Jalan, atap bangunan dan sejumlah kendaraan terkena debu ini. Tak terkecuali parit dan sungai.
"Jadi kemarin ketika sehabis erupsi Gunung Kelud saya lihat kok di selokan depan rumah airnya jernih. Ternyata setelah diperhatikan ada endapan abu vulkanik yang sangat banyak di situ," ujar Galih dalam perbincangan pada Selasa (9/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau pakai tanahnya saja bisa, bagaimana jika pakai abu vulkanik murni? Itu yang mendasari penelitian saya," ujar Galih.
Dalam penelitiannya, Galih dan Luca meneliti soal manfaat abu vulkanik untuk menyaring limbah industri logam berat. Ia mengkhususkan pada limbah chronium hexavalent (cr-6) yang biasanya digunakan industri sebagai campuran pembuatan logam stainless steel.
Limbah CR-6 sendiri diketahui merupakan limbah berbahaya. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa limbah tersebut rentan menyerang pekerja industri logam dan termasuk sebagai karsinogen atau bahan penyebab kanker.
Alat yang dibuat Luca pun sederhana. Limbah berbahaya tersebut disedot dengan mesin pompa air yang dipasangi pipa. Agar debit air tak terlalu kencang, ia pun mengatur debit menggunakan pipa tambahan yang berfungsi sebagai pipa pembuangan. Setelah air yang berisi limbah dialirkan ke tabung pertama yang berisikan serat fiber.
Serat fiber tersebut memiliki fungsi untuk menyaring limbah yang berpartikel besar. Setelah melalui tabung pertama, baru air yang berisi limbah cairan dialirkan ke tabung kedua yang berisikan abu vulkanik.
"Abu vulkanik ini sifatnya menyerap CR-6 tadi. Jadinya zat CR-6nya tersangkut atau tertahan di abu vulkanik. Hasilnya akhirnya, limbah yang keluar sudah bukan limbah berbahaya dan dapat dibuang dengan aman," ujar Galih.
Penelitian itu berujung gelar juara dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja LIPI tahun 2014 lewat karya ilmiah berjudul โAn Inorganic Nature of Heavy Metals Absorbentโ atau penyaring logam berat dari abu vulkanik. Tak hanya itu saja, penelitian itu juga meraih Grand Awards untuk bidang Material Sciences dalam ajang Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2015, di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat pada bulan Mei lalu.
Sebagai informasi, ajang Intel ISEF sendiri pada kesempatan ini tidak hanya memberikan penghargaan grand awardssaja, melainkan juga menganugerahkan special awards dari 72 organisasi dan perusahaan swasta di Amerika, penghargaan best of the best project, dan penghargaan terhadap peneliti muda terbaik di bidangnya.
Luca mengaku belum memikirkan soal hak paten dan komersialisasi alatnya. Memang pada hari pertama konvensi ini digelar, sudah ada beberapa pihak yang mengaku ingin membeli alat yang diciptakan Luca. Namun ia menolak dengan alasan agar alat ini dapat dimanfaatkan semua orang.
"Kemarin memang ada yang mau beli alat ini. Tapi saya nggak mau. Kalau soal paten juga nggaklah. Jadi misalnya nanti ada letusan gunung di tempat lain misalnya ada yang mau buat alat ini silhkan. Cuma tolong kredit ide pembuatannya tertulis nama saya," sambungnya lagi. (faj/tor)











































