Lokalisasi Dolly tak sekadar ditutup. Warga dialihkan ke profesi lain. Ini cerita mereka yang memulai hidup baru sebagai pembuat sepatu dan sandal jepit.
Bukan hanya penghuni Dolly yang terimbas penutupan setahun lalu, melainkan warga sekitar lokalisasi. Wajar saja, karena selama bertahun-tahun, mereka bergantung pada kehidupan malam. Ada yang buka warung, toko kelontong, hingga vocer pulsa. Pelanggannya tentu saja para penghuni Dolly dan para pelanggannya.
Setelah Dolly ditutup Juni 2014, 14 warga Putat Gunung Jaya yang berada di gang Dolly ikut pelatihan. Mereka menjahit upper (bagian atas) sepatu yang hasilnya disetorkan ke perusahaan. Tiap pasang upper, mereka diberi Rp 6 ribu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini membuat Camat Sawahan Yunus dan Lurah Putat Bambang Hartono harus memutar otak untuk kembali memberdayakan warga agar perekonomian mereka kembali. Kedua pejabat itu sepakat mempunyai ide agar warga membuat sandal japit dengan modal awal Rp 400 ribu.
"Pak Camat mempunyai ide itu. Dimana hasil produksinya dipasarkan ke tempat kebugaran maupun hotel," ujar Bambang, Sabtu (13/6/2015).
Bambang mengungkapkan, proses pembuatan sandal japit seluruhnya dilakukan dengan cara manual. "Untuk pemotongan sandal dipotong dengan cara dicetak lalu dipotong menggunakan pisau yang kemudian memasukkan japitnya dengan alat ciptaan sendiri dari kayu dan kawat," imbuh dia.
Dengan kegigihan dan semangat yang tidak lelah diberikan kedua pejabat, hasil produksinya sudah bisa dipasarkan. "Ada sebuah panti pijat tradisional yang sudah memesan 100 pasang dan saat ini sedang menunggu persetujuan dari salah satu hotel yang memesan sandal ke warga," jelas Bambang.
Tentu saja, tak cuma 14 warga yang memulai hidup baru, tapi banyak lainnya. Perlahan mereka beralih profesi. Perubahan telah dan tengah terjadi di eks lokalisasi dengan ribuan PSK tersebut. (ze/try)











































