Saat Sipil dan Militer Menyatu, Merah Putih Harga Mati

Saat Sipil dan Militer Menyatu, Merah Putih Harga Mati

Elza Astari Retaduari - detikNews
Senin, 15 Jun 2015 04:15 WIB
Saat Sipil dan Militer Menyatu, Merah Putih Harga Mati
Jakarta - "Dari yakin kuteguh, hati ikhlasku penuh, akan karuniamu. Tanah Air pusaka, Indonesia merdeka. Syukur aku sembahkan kehadiratMu Tuhan," demikian penggalan lagu syukur yang dikumandangkan di malam terakhir pelatihan kedaruratan wartawan. Sebanyak 87 pewarta yang ikut dalam pelatihan larut dalam keharuan.

Usai seluruh peserta pelatihan melakukan kegiatan cakra maklam melewati ujian rintangan di hutan perbukitan Sanggabuana Kostrad, Karawang, api unggun pun dinyalakan. Acara dilakukan di malam terakhir pelatihan, Jumat (12/6/2015). Rasa lelah dan kantuk hilang seketika saat semua peserta dan pelatih dari Kostrad membentuk lingkaran mengelilingi api persaudaraan.

"Dengarkan lagu ini dan hayati bagaimana perjuangan para pahlawan menghalau musuh untuk Indonesia," tutur komandan pelatihan medan Sanggabuana, Lettu Agus Priyanto memberi pengarahan pada momen tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Satu persatu peserta lalu maju ke tengah lingkaran untuk memberi hormat dan mencium bendara Merah Putih yang dipasang pada sebuah tiang pendek. Suasana haru tak bisa dihindari, beberapa bahkan meneteskan air mata karenanya.

Selama 3 hari sejak Kamis (11/6) hingga Sabtu (13/6), sebanyak 87 pewarta dari berbagai media ikut dalam pelatihan kedaruratan yang digelar oleh Mabes TNI. Tujuan pelatihan ini adalah agar pewarta memiliki modal saat harus meliput di situasi ataupun daerah lawan.

"Ini merupakan gelombang 3 yang sudah kami selenggarakan. Harapan kami dengan pelatihan ini supaya wartawan lebih tangguh lagi. Wartawan yang ikut di gelombang pertama sekarang sudah menjadi pimpinan di media tempatnya bekerja. Saya harap kalian pun demikian," kata Ketua panitia acara, Kolonel Inf Bernardus Robert.

Pelatihan ini memang digelar semi militer. Meski demikian, ada 11 pewarta wanita yang juga ikut dalam pelatihan ini. Semua berusaha mengikuti setiap kegiatan dengan semangat. Bukan hanya materi survival dan kedisplinan saja yang didapat pewarta pada kesempatan ini. Pasalnya pelatih pun memberikan materi mengenai bela negara kepada para peserta. Hal tersebut untuk menambah kecintaan dan nasionalisme peserta terhadap NKRI.

"Membela negara itu tugas semua warga negara. Tugas kalian dalam pekerjaan memang mencari berita, tapi membela negara juga merupakan tugas kalian. Kami prajurit memang harus berdiri di paling depan, namun saat keadaan perang, kalian membantu kami. Kita berjuang bersama-sama mempertahankan NKRI," ucap salah seorang pelatih, Kapten Alipudin, kepada pewarta yang ikut pelatihan.

Ada banyak materi lain yang diberikan. Hal-hal yang tidak ditemukan sehari-hari pun dijalani oleh para pewarta pada pelatihan ini. Seperti merangkak di kolam berlumpur yang banyak belut dan kataknya, hingga menceburkan diri ke sungai dangkal.

"Pas masuk ke lumpur dan merayap masuk menuju sungai, lumpurnya masuk ke mulut dan ketelen dikit. Pengen muntah rasanya kalau ngebayangin itu lumpur campuran segala macam kotoran. Jijik sebenernya tapi aku malah ketawa-tawa," cerita jurnalis TV perempuan yang ikut dalam pelatihan, Rurin.

Selama 3 hari pelatihan, hubungan hangat terjalin antara peserta dengan pelatih. Meski pelatih terlihat galak dipermukaan saat pelatihan, pada dasarnya para prajurit Kostrad itu cukup bersahabat.

"Itu bukan galak, tapi tegas. Ya karena memang keseharian kami seperti ini. Aslinya sih kami semua romantis," canda salah seorang pelatih, Kopral Rosyidin.

Satu pelajaran mengesankan lain yang didapat pewarta dari pelatihan ini adalah materi menembak. Pewarta mendapat kesempatan menembak dengan senapan SS 1 buatan PT Pindad. Pelatih cukup terkesan dengan hasilnya lantaran ada banyak pewarta yang berhasil mendapat poin bagus pada materi ini. Hingga akhirnya panitia memutuskan memberi hadiah pada 3 orang dengan hasil terbaik. Bahkan pemenang pertama, Mario, berhasil menembak seluruh target padahal itu merupakan pertama kalinya memegang senjata.

"Aku nggak nyangka bisa memang saat nembak soalnya belum pernah nembak sebelumnya. Cuma tahu teknik nembak dari nonton film aja. Senang banget, apalagi dulu cita-citanya mau jadi tentara, cuma akhirnya jadi jurnalis hehe," ungkap Mario yang merupakan juru kamera itu.

Para pewarta juga mendapati bagaimana situasi salat saat keadaan darurat. Mereka wudhu dengan tanah dan salat berjamaah di hutan.

Ilmu dan pengalaman yang didapat para pewarta pada pelatihan ini mungkin tidak sebanding dengan tugas para prajurit. Namun paling tidak, materi yang didapat dari pelatihan bisa menjadi bekal saat meliput di daerah rawan. Lalu apakah para pewarta ini siap jika dikirim meliput di daerah perang?

"Wah ngeri juga tapi gue siap demi NKRI," jawab seorang jurnalis media online, Yogi saat dikonfirmasi.

"Saya juga siap meliput ke daerah perang atau daerah rawan kayak Poso atau Papua," sambung wartawan lainnya mengakhiri, Syamsul.

(ear/imk)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads