"Priiiit! Priiit! Kumpul dalam hitungan 10," ujar para pelatih Kostrad Sanggabuana, Karawang, di awal pelatihan, Kamis (11/6).
Pewarta yang baru saja datang terkaget-kaget dengan panggilan tersebut. Semua yang mengenakan pakaian dan sepatu dinas lapangan (PDL) berlari-lari membawa barang-barangnya. Mereka yang terlambat, harus mau menerima hukuman. Baik push up maupun jalan jongkok akhirnya menjadi makanan sehari-hari bagi mereka yang melakukan kesalahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah modal, peluit dan suara. Pelatihan seperti ini mengajarkan kedisplinan, mental, dan karakter. Ujntuk membentuk keberanian. Pertama di-alarm, dikasih tahu merapat semua. Lama kelamaan tuning, respect," ungkap Kopral Rosyidi (34), salah seorang pelatih Kostrad Sanggabuana.
"Saya lihat ada perubahan, kalau ada tembakan, instingnya langsung menghilang, jadi naluri perang sudah muncul, kalau kemungkinan meliput ke medan perang, sudah ada sedikit modal," sambung pria asal Cirebon itu.
Terlepas dari itu, pelajaran lain yang perlu dipetik adalah bagaimana pewarta menghargai sesama teman. Saat makan pun pewarta dilatih secara militer. Tempat makan pun menggunakan ompreng seperti prajurit. Lauk sengaja disiapkan sesuai jumlah pewarta yang ikut pelatihan. Awalnya beberapa masih seenaknya mengambil makanan. Ada yang mengambil lauk lebih dari satu sehingga teman di bagian belakang tak kebagian.
Hal tersebut mengajarkan bagaimana dalam keadaan darurat, semua harus memikirkan rekan-rekannya. Setelah kejadian pertama, akhirnya para pewarta pun mengambil makan sesuai porsi masing-masing agar tidak lagi ada yang tidak mendapat lauk.
"Waktu pertama kaget karena disuruh cepat-cepat. Akhirnya karena buru-buru ambil rendangnya jadi 2. Nggak sengaja soalnya buru-buru. Itu jadi pelajaran supaya kita mikirin teman yang lainnya," ujar Sucipto, seorang wartawan media cetak yang ikut pelatihan.
Mereka yang ambil lauk lebih dari satu pun akhirnya membagai jatah itu untuk teman yang tidak kebagian. Pelajaran kesolidaritasan lain didapat saat berada di hutan. Pewarta saling membantu teman yang kesulitan. Bahu membahu menunaikan tugas dari pelatihan.
Sementara itu loyalitas yang tinggi juga terlihat jika ada seorang melakukan kesalahan, maka semua juga mendapat hukuman. Uniknya, tak ada yang mengeluh. Pewarta justru tertawa-tawa saat mengenang hukuman yang harus didapat.
"Semangat peserta sangat bagus, punya moril yang tinggi, loyalitas terhadap atasan, terhadap mereka dan lainnya sangat bagus. Apalagi kekompakan dan solidaritasnya sangat bagus. Saat kami memberikan arahan, mereka mau berubah, mau berbuat yang lebih baik, di situ ada kebanggaan. Seratus persen berubah semua," ucap komandan pelatihan medan, Lettu Agus Priyanto.
"Terutama dari hal kerapihan pakaian dan cara berkumpul. Juga respect terhadap teman dan atasan. Saat bertemu dengan pelatih mereka selalu memberikan penghormatan dan salam. Dan yang paling bagus adalah rasa senasib dan sepenanggungan teman-teman wartawan," imbuhnya.
Agus sendiri mengaku banyak melihat kelucuan di tengah-tengah melatih pewarta. Pelatihan ini menurutnya akan bermanfaat kelak di waktu-waktu khusus.
"Yang sering terlihat lucu karena mereka tidak pernah menggunakan sepatu PDL saat jalan kayak ada besi yang menempel di kakinya, jadi jalannya kayak pincang-pincang nggak karuan. Lucu sekali. Sebenernya itu ada tekniknya," kata pria asal Purbalingga itu geli.
Pada pelatihan ini, pewarta belajar bagaimana cari menghindar jika ada serangan. Selain itu juga materi survival untuk bertahan hidup dalam keadaan yang sulit di tengah hutan atau daerah rawan. Pelatih juga mengajarkan pewarta mengenai keberanian dengan melakukan kegiatan caraka malam.
Semua pewarta diminta mengelilingi hutan di malam hari tanpa ada penerangan, termasuk peserta perempuan. Pada kegiatan itu, pewarta mengaplikasikan materi yang didapat dari pelatih sebelumnya. Beberapa hal 'menakutkan' memang ditemukan, namun seluruh pewarta berhasil melewati ujian tersebut.
"Saat jurit malam, fokus itu perlu. Waktu itu seram juga sebenarnya, tapi kebetulan pas waktu itu saya kebelet buang air, jadi buru-buru jalan biar cepet sampai barak. Terus ketemu temen-temen yang nyasar jadi bisa bareng juga akhirnya," cerita Syamsul, seorang pewarta media online, mengenai pengalamannya.
Tak sedikit memang yang tersasar saat cakra malam itu. Beruntung pelatih tetap berjaga di hutan yang berada di perbuktian Sanggabuana. Terlebih saat itu juga sedang ada pelatihan bagi pasukan intai tempur (taipur) Kostrad. Peserta taipur pun sedikit membantu memberi tahu jalan mana yang harus dilalui kepada pewarta yang salah jalan.
Pelatihan kedaruratan wartawan dilakukan selama 3 hari sejak Kamis (11/6) hingga Sabtu (12/3). Ini merupakan gelombang 3 jurnalis yang mendapat pelatihan kedaruratan dari TNI. Kegiatan yang rencananya akan rutin dilakukan tiap tahun ini sangat bermanfaat saat pewarta meliput di daerah rawan. Meski latihan yang didapat cukup berat dan sangat menguras energi, pewarta merasa beruntung mendapat pelatihan itu.
(ear/imk)










































