DetikNews
Jumat 12 Juni 2015, 21:37 WIB

Laporan Dari Delft

Dari Belanda, Putra Indonesia Sukses Ciptakan Wahana Mutakhir Luar Angkasa

Eddi Santosa - detikNews
Dari Belanda, Putra Indonesia Sukses Ciptakan Wahana Mutakhir Luar Angkasa Dwi dan TARAV7s Dibalut Bendera Merah Putih (Foto:ist)
Delft - Namanya Dwi Hartanto, kandidat doktor pada Technishe Universiteit Delft bidang Space Technology & Intelligent System. Dwi bersama tim dengan gemilang merancang bangun Satellite Launch Vehicle/SLV (Wahana Peluncur Satelit, red) dengan teknologi termutakhir.

Wahana yang diberi nama sandi The Apogee Ranger V7s (TARAV7s) sukses diluncurkan dari fasilitas tes roket dan alat tempur Ministerie van Defensie (Kementerian Pertahanan Belanda), 5 Juni 2015 tepat pukul 12.00 CET baru-baru ini.

"Teknologi wahana ini untuk memperbaiki atau menggantikan teknologi yang sudah ada. Ini memang proyek besar dan ambisius namun feasible, melibatkan berbagai organisasi dan kementerian besar di Belanda," ujar Dwi kepada detikcom di Delft, Jumat (12 Juni 2015).

Proyek ini sepenuhnya dilakukan di Technishe Universiteit Delft dan didukung serta didanai oleh Kementerian Pertahanan Belanda, Nationaal Lucht-en Ruimtevaartlaboratorium (Laboratorium Antariksa Nasional Belanda), Airbus Defence dan Dutch Space, sebuah perusahaan terbesar di Belanda dalam bidang aerospace.

Dwi dan tim memulai dengan melakukan riset dalam beberapa bidang utama, antara lain merevolusi teknologi rocket engine-nya (khususnya teknologi hybrid rocket engine), desain material dan aerodinamika dari struktur pasif roket, auto-guidance radar dan sistem sensor roket.

Di samping itu juga sistem komputer dan kendali roket, desain sistem aerodinamik aktif roket, dan desain payload serta sub-sistem roket.

"Hasilnya adalah rancangan roket jenis 3 tingkat yang menggunakan hybrid engine serta dilengkapi dengan sistem aerodinamik aktif dan sistem komputer serta kendali roket modern," imbuh Dwi.

Menurut ilmuwan muda dari Yogya, putra pasangan Bapak Chamdani dan Ibu Astri, salah satu dari sekian banyak inovasi yang dilakukan dalam desain ini adalah pengimplementasian sistem aerodinamika aktif, yang dikontrol oleh Stability Augmentation System (SAS) dan modul-modul Internal Measurement Unit (IMU).

Sistem aerodinamika aktif merupakan salah satu variabel paling penting dalam misi peluncuran ini karena tugasnya adalah menstabilkan, mengendalikan dan memaksimalkan trajectory (lintasan, red) dan apogee roket dengan menetralisir berbagai macam gangguan.

"Gangguan-gangguan itu misalnya perubahan arah angin yang masif dan tiba-tiba, perubahan dan keadaan lapisan-lapisan atmosfir, medan magnet dan ganguan-ganguan lain," terang Dwi.

Selain itu, lanjut Dwi, semua sistem sensor dan flight-modules roket dikendalikan oleh sebuah flight-module utama berbasis octa-core @3Ghz dengan realtime GadoGadoOS 64-bit sebagai otak di belakangnya. Gado-Gado mengadopsi nama sayur salad ala Yogya.

Dwi sendiri menilai, bahwa sebagai langkah awal kemandirian dalam bidang wahana peluncur satelit, keberhasilan peluncuran TARAV7s merupakan sebuah langkah besar untuk terus berkembang di jalur riset yang tepat.

"Karena ditandai dengan pemecahan rekor di beberapa bagian," cetus Dwi.

Rekor itu antara lain pada supersonic liftoff dan pencapaian titik jelajah apogee 23% lebih tinggi untuk jenis kelas roket yang sama.

Roket TARAV7s dengan diameter 310mm yang dilengkapi dengan hybrid engine dan stabilisator aerodinamika aktif tersebut mampu memberikan trust 200 kN yang optimal dan mampu mengantarkan modul scientific orbital payload di orbit 347 km.

Dengan keberhasilan misi peluncuran tahap awal ini, tim kembali didaulat untuk segera kembali ke Lab untuk terus mengembangkan roket generasi berikutnya yang langsung ditargetkan untuk bisa mengantarkan modul scientific orbital payload di Low Earth Orbit (LEO), yaitu sekitar 1.000 km.

Posisi Dwi Hartanto dalam rancang bangun teknologi dirgantara ini patut dicatat sebagai prestasi luar biasa, sebab riset bidang teknologi ini tergolong riset sensitif karena menyangkut rahasia kenegaraan dan intellectual property (IP), dan semua anggota timnya adalah orang Belanda, kecuali Dwi.

"Beberapa kali Profesor dan beberapa kolega dari Kementerian Pertahanan Belanda bercanda dengan saya agar berganti paspor saja, supaya memudahkan segala urusan, salah satunya adalah akses untuk keluar-masuk military test facility," kisah Dwi.

Akan tetapi Dwi berhasil meyakinkan mereka bahwa hal itu bukan merupakan hambatan, selama keahliannya untuk berkontribusi pada riset dan pengembangan dalam bidang sensitif ini masih dibutuhkan, dihargai dan diakui, terbukti dengan suksesnya peluncuran wahana bersandi TARAV7s tahap pertama ini.

"Tidak satu pun dapat menghalangi putra-putri bangsa Indonesia untuk terus maju dan berani bermimpi besar dalam bidang-bidang yang diminati, tidak juga status kewarganegaraan," pungkas Dwi.

Sebelumnya, Dwi juga telah terlibat dalam kesuksesan proyek mematangkan platform teknologi dan mengorbitkan active nano-satellite pertama di dunia.

Teknologi ini kemudian menjadi barometer dan acuan desain standar teknologi active nano-satellite pada universitas-universitas di seluruh dunia.

Dwi juga menjadi salah satu ahli di balik suksesnya beragam misi-misi ilmiah pada peluncuran active nano-satellite Delfi-n3Xt, Delfi-SMART dan DelFFi-sat, yang dalam persiapan tahap akhir untuk diluncurkan pada akhir 2015. Selamat!




(es/es)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed