Sabtu (6/6/2015) lalu, cuaca di Goro, Yate, Provinsi Selatan New Caledonia, kurang lebih 100 km dari Ibu Kota Noumea, kurang bersahabat. Meski demikian, antusiasme warga keturunan Jawa tidak surut. Diinisiasi Diaspora Indonesia, mereka membersihkan ilalang, semak, dan makam leluhur untuk menyambut datangnya bulan Ramadan.
Lokasi pemakaman merupakan bekas pertambangan nikel Goro. Hampir satu setengah jam warga keturunan Indonesia yang mayoritas berkewargaannegaraan Prancis itu berada di kawasan tersebut. Selain membersihkan makam, mereka juga berdoa sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur orang Jawa yang datang ke New Caledonia lebih 119 tahun lalu.
Acara nyadran diakhiri dengan doa bersama. Setelah dilakukan doa secara Islam, kemudian dilanjutkan doa secara Kristiani, karena sebagian keturunan mereka juga memeluk agama Kristen dan Katolik.
Â
"Tradisi ini merupakan warisan sesepuh, supaya kami terus ingat untuk mengucap syukur kepada Allah SWT dan mendoakan bagi arwah para leluhur," jalas Ketua Persatuan Umat Islam Masyarakat Indonesia dan Keturunan (PUIMIK) Sarmini Kasimoen.
Â
Ketua Persatuan Masyarakat Indonesia dan Keturunannya (PMIK) Thierry Timan menambahkan selain mendoakan dan menghormati nenek moyang yang bersusah payah meninggalkan tanah Jawa mencari kehidupan lebih baik di New Caledonia, mereka berharap bisa terus melestarikan tradisi.
"Agar anak-anak muda keturunan Jawa menyadari perlunya melestarikan tradisi yang baik dari Indonesia," katanya.
Â
Sementara, Konjen RI di Noumea, Widyarka Ryananta, beserta staf KJRI yang mengikuti ziarah mengemukakan tradisi nyadran di New Caledonia unik karena tidak hanya dilaksanakan umat agama Islam. "Tapi juga diikuti pemeluk agama lain. Ini merupakan simbol kerukunan antar warga keturunan Indonesia tanpa membedakan agama dan status sosial mereka," katanya.
Saat warga menggelar nyadran di Goro, Yate, pada saat yang bersamaan beberapa warga keturunan Indonesia di Paita juga melakukan kegiatan serupa di Tiebaghi yang berjarak lebih 400 km dari Noumea. Mereka menziarahi makam leluhur orang Jawa yang dipekerjakan di perkebunan kopi dan tambang nikel di wilayah bagian utara New Caledonia.
Â
Keturunan Indonesia di New Caledonia berjumlah sekitar 7.000 orang. Gaya hidup Prancis sebagai negara induk memang merasuki kehidupan sehari-hari mereka, tapi upaya melestarikan tradisi terus dilakukan. Terbukti, mereka masih mau melakukan nyadran.
(try/try)











































