"Kedaulatan pangan masih jauh. Sekali lagi, sulit kita melakukan swasembada pangan. Yang paling mendasar adalah (masalah) lahan," ujar Zulkifli.
Hal ini disampaikan Zulkifli saat membuka Seminar Nasional bertema 'Kedaulatan Pangan' di Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan, Ring Road Selatan, Yogyakarta, Rabu (10/6/2015).
Menurutnya, dilihat dari angka produksi, jumlah lahan, dan distribusi pupuk, masih belum memenuhi syarat untuk mencapai kedaulatan pangan. Begitu pula dengan cita-cita swasembada beras. Zulkifli menilai harapan itu masih jauh.
"Kalau produksi mau meningkat, maka ada nggak lahan yang bertambah? Nggak ada. Irigasi yang rusak sudah diperbaiki? Ada nggak waduk yang sudah selesai diperbaiki?" imbuhnya.
Ditambah lagi kepemilikan lahan yang sangat terbatas. Zulkifli mengungkapkan, rata-rata per kepala keluarga hanya memiliki 0,3 hektar lahan.
"Sehingga orang tidak tertarik pada pertanian. Oleh karena itu dia tidak mungkin maju di pertanian. Sehingga banyak yang dikonversikan untuk kegunaan yang lain," ulas Zulkifli.
Ditambah lagi dengan banyaknya bahan pangan yang masih diimpor. Termasuk di antaranya gula, jagung dan kedelai.
Dia bercerita betapa semakin berkurangnya masyarakat yang berminat menjadi petani. Sebab, pemerintah selama ini hanya mengatur harga penjualan tanpa bisa mengendalikan harga produksi.
"Harga jual diatur, harga produksi tidak bisa dikendalikan. (harga) Pupuk dan obat-obatan tidak dikendalikan, sedangkan harga jual dipatok," kata Zulkifli.
(sip/ega)










































