Warga berdatangan ke rumah orangtua Selvi di Jl Kutai Raya Sumber, Banjarsari, Solo, Rabu (10/6/2015). Budi (28) asal Cilacap, Jawa Tengah, tertarik dengan prosesi siraman ini. "Saya belum nikah mas, mau belajar," ujarnya tersenyum. Budi beruntung bisa melihat dari dekat.
Proses siraman dirangkai dalam upacara potong rambut calon pengantin. Rambut ini selanjutnya ditanam di halaman rumah. Hal serupa juga dilakukan pengantin pria, Gibran di rumahnya. Pada umumnya, rambut ini dilarung atau dibuang ke sungai.
Prosesi lainnya, jualan dawet yang dilakukan oleh orangtua pengantin. Jualan dawet atau sedayan dawet ini didahului dengan pemberian dawet dari Ibu Selvi kepada calon pengantin perempuan.
Tamu juga diberi kreweng atau potongan tanah liat yang dibalut kain emas bundar sebagai uang untuk membeli. Dawet merupakan pangan berbentuk bulat kenyal lambang kekuatan keinginan dan keuletan.
Prosesi ini juga menandakan untuk mengharapkan datangnya banyak tamu sebagai pemberi berkah pada mempelai. Warga pun tertarik mengikuti prosesinya. Ani Setyowati (57) dari Manahan, Solo, sengaja datang.
"Perjalanan sekitar 15 menit dari rumahnya ditempuh naik angkot bersama temannya. Mau lihat, sekalian mau minum dawet. Kalau di Jakarta namanya cendol," ujar Ani. Menurut dia, hari ini prosesi tidak seketat besok sehingga warga berani mendekati penjagaan Paspampres.
(try/try)











































