Hunian sementara berupa 120 unit rumah bagi pengungsi Rohingya itu dibangun lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Desa Blang Adoe, Kecamatan Kutamakmur, Aceh Utara. Selain hunian dengan konstruksi kayu tersebut, ACT juga membangun tempat ibadah, pendidikan, ruang pemberdayaan masyarakat, serta sarana olahraga.
Vice President ACT, M Insan Nurrohman mengatakan, dana pembangunan shelter itu bersumber dari sumbangan donatur melalui ACT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembangunan shelter itu diperuntukkan bagi para pengungsi Rohingya yang masih ditampung di Desa Kuala Cangkoi, Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara. Pengungsi yang pasangan suami-istri akan diberikan shelter khusus dan pihaknya juga telah menyiapkan ruang pemisahan bagi laki-laki dewasa maupun perempuan.
“Hasil kesepakatan dengan Pemda Aceh Utara, ACT bukan hanya membangun konstruksi hunian bagi mereka, namun juga akan bertanggung jawab dalam manajemen memberikan pemahaman bagaimana hidup mandiri, sosial serta pendidikan,” ujarnya.
Dalam pembangunan shelter itu, pemerintah Aceh Utara menyediakan lahan seluas 15 hektare. Sedangkan dana pembangunan diperoleh dari donatur di Indonesia maupun luar negeri yang peduli pengungsi Rohingya di Aceh. (rul/try)











































