Tukar pengalaman itu dilakukan dalam acara Indonesia-Australia 2015 East Asia Summit (EAS) Rapid Disaster Response Workshop and Indonesia-New Zealand 2015 EAS Disaster Recovery Workshop. โAcara ini digelar di Kuta, Bali, Rabu (10/6/2015).
"Tujuan dariโ recovery workshop adalah memfasilitasi pertukaran informasi dan pengalaman dan keahlian di bidang recovery, meningkatkan pemahaman pentingnya kerjasama dan pelibatan masyarakat dan semua sektor yang terkait recovery dan rehabilitasi serta memberikan dukungan untuk ASEAN Disaster Recovery Toolbox," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui siaran pers.
Peserta yang hadir dalam Workshop ini adalah 58 internasional dan 40 nasional/daerah. Peserta internasional merupakan perwakilan dari 17 negara EAS, Timor Leste dan beberapa organisasi internasional dari IFRC, UNOCHA, WHO dan INSARAG.
Sedangkan dari Indonesia melibatkan perwakilan dari BNPB, Kementerian Kesehatan, Kementerian Luar Negeri, BMKG, Kementerian PErtahanan, Kementerian PU PERA, Pusdokkes Mabes POLRI, PMI Bali, Dinas Pertanian Provinsi Bali dan Basarda Provinsi Bali.โ Kegiatan Workshop Indonesia-Australia 2015 EAS Rapid Disaster Respons ini dilaksanakan 2 hari dibagi kedalam 7 sesi dan pada hari ketiga, akan diselenggarakan Indonesia-New Zealand 2015 EAS Disaster Recovery Workshop pada tanggal 12 Juni 2015 dengan tema 'Implementing a People Centred Recovery'.
"Yang akan mendiskusikan pengalaman penanganan rehabilitasi Christchurch Selandia Baru, pengalaman Indonesia setelah gempabumi Yogyakarta 2006 serta Jepang," ujar Sutopo.
Sementara kegiatan Indonesia-Australia EAS Rapid Disaster Response Workshop merupakan implementasi dari Indonesia-Australia Paper yang berjudul 'A Practical Approach to Enhance Regional Cooperation on Rapid Disaster Response', yang telah disepakati oleh para pemimpin negara-negara yang hadir dalam KTT Asia Timur pada bulan November 2011 di Bali, Indonesia dilanjutkan dengan workshop kedua pada bulan Juni 2014 di Bali.
"Tujuan utama dari penyelenggaraan workshop ketiga ini adalah untuk meningkatkan kerjasama dalam bidang kesiapan tanggap darurat bencana di kawasan EAS," ucap Sutopo.
"Ada beberapa hal yang menjadi fokus dalam workshop ini antara lain Launching EAS Rapid Disaster Response Toolkit dan diskusi mengenai bagaiman Toolkit tersebut dapat diaplikasikan," tambahnya.
Sutopo menambahkan, fokus lainnya adalah memperjelas peran dari National Focal Points negara-negara EAS saat terjadi bencana dan mendapatkan kesepakatan mengenai hal-hal mendasar yang dapat menjadi acuan bagi para national focal points dalam berinteraksi Bersama dengan WHO. Workshop ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman mengenai WHO Guidelines for Foreign Medical Team serta mendiskusikan hal-hal lain yang terkait dengan isu-isu kesehatan di tingkat global serta meningkatkan pemahaman megenai WHO Guidelines bagi Foreign Medical Team serta memperjelas peran dari National Focal Points Negara-negara EAS saat terjadi bencana.
(vid/ndr)










































