Menristek: Perjokian Merusak Pendidikan Indonesia, Harus Diberi Sanksi Berat

Menristek: Perjokian Merusak Pendidikan Indonesia, Harus Diberi Sanksi Berat

Edzan Raharjo - detikNews
Selasa, 09 Jun 2015 17:47 WIB
Yogyakarta - Ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) digelar serentak secara nasional. Sayangnya, masalah perjokian kembali muncul untuk seleksi masuk tahun ini yang membuat geram Menteri Riset dan Teknologi, Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) M Nasir.

Menteri M Nsair menyatakan, kasus perjokian harus ditindak tegas. Jangan sampai memberikan kesempatan adanya kasus perjokian. Karena perjokian tersebut jelas merugikan dan merusak pendidikan tinggi di Indonesia.

"Bagi yang melakukan perjokian harus mendapat sanksi yang berat. Akan didiskualifikasi," kata Menristek M Nasir saat mengunjungi pelaksanaan ujian SBMPTN di kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Selasa (9/6/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menristek mengaku telah mendapatkan laporan perjokian di Solo, Jawa Tengah dan Makassar, Sulawesi Selatan. Untuk kasus perjokian ini dalam hal pendidikan akan diselesaikan secara internal. Namun jika sudah ada unsur pidana akan diserahkan ke kepolisian.

Di UNY, Menristek mengunjungi peserta SBMPTN berkebutuhan khusus tuna netra. Peserta tuna netra ini ditempatkan di ruangan terpisah dan mendapatkan pendampingan. Ia juga melihat peserta SBMPTN umum di ruangan yang diguanakan untuk ujian. (rul/try)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini