"Bukan merasakan lagi, buanyak sekali," kata Jokowi saat ditanya soal tekanan yang datang padanya. Jokowi menjawab itu saat berbincang tim detikcom selama satu jam di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Senin (8/6/2015) kemarin.
Saat ini presiden ke-7 RI tersebut sedang ingin mengubah sistem. Bila dulu, banyak sekali pola-pola kolutif atau persekongkolan di pemerintahan, maka dia sedang berupaya memotongnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai contoh, Jokowi mendapat laporan ada 5.000 sampai 7.000 kapal yang mencuri ikan. Dulu hal ini dibiarkan, namun kini tidak lagi. Jokowi melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan mencegat itu dan memotongnya. Sebagai konsekuensi, tentu saja ada perlawanan.
Hal yang sama juga terjadi di migas. Jokowi memotong mata rantai impor migas. Salah satunya dengan membubarkan Petral, anak perusahaan Pertamina yang dianggap sudah tak berfungsi dan selama ini diduga sebagai 'sarang mafia'.
"Apa yang dilawan itu diam? Di migas pola seperti itu kita potong, apa mereka diam? Di migas itu bukan hanya duit puluhan trilun, dalam sekian tahun itu bisa ribuan triliun. Pola seperti itu dipotong, apa diam? Apa tidak melawan?" tanya Jokowi dengan nada tinggi.
Menghadapi perlawanan itu, Jokowi menegaskan keberaniannya. Dia sudah memutuskan dan kini tinggal menghadapinya. "Sudah memutuskan masak enggak berani. Sudah memutuskan, sudah kita lakukan," imbuhnya.
Terkait hal ini, ada cerita menarik yang disampaikan oleh Jokowi. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pernah mempertanyakan komitmennya untuk melawan mafia perikanan. Jokowi pun menegaskan, program itu jalan terus.
"Sekelas Bu Susi saja curhat seperti itu. (Meniru omongan Susi) Bapak masih di belakang saya? Apakah ini diteruskan? Saya jawab terus (dengan nada tinggi). Ini sekelas Bu Susi. Belum yang lain," ceritanya.
(mad/nrl)











































