Kandang hujan merupakan sebuah rumah bergaya Jawa, Joglo yang dulunya Balai desa. Namun Balai desa dipindahkan, dan sempat kosong beberapa tahun, rumah ini menjadi tempat pertemuan warga.
Dua tahun belakangan, rumah ini disebut kandang hujan karena fungsinya kini menjadi tempat penyimpanan air hujan dan enam electrolyzer.
Di samping kandang hujan, terdapat tandon air hujan yang mampu menyimpan 100 liter air hujan. Sedangkan di ruang utamanya tampak puluhan botol air mineral yang berisi air hujan yang siap 'disetrum'.
Saat detikcom berkunjung ke kandang hujan, Senin (8/6/2015), suasananya masih sepi. Hanya ada seorang warga Wono (31) yang tampak mengawasi kerja electrolyzer.
Wono dan Agustinus Gunawan (40) merupakan pengurus Kandang Hujan. Siapapun warga yang belum memiliki electrolyzer di rumahnya, bisa mengambil air di sini.
"Tapi sudah hampir semua memiliki alatnya. Separuh lebih," kata Gunawan kepada detikcom.
Di tempat ini pula, diadakan pertemuan rutin setiap minggu antara warga dan Romo Kir soal pengembangan alatnya. Terdapat pula seperangkat gamelan yang awalnya digunakan sebagai sarana para inisiator kandang hujan untuk mengundang warga.
"Kalau kumpul dengan warga di sini bisa sampai pagi. Mulainya jam 20.00," tuturnya.
(sip/ndr)











































