"Kami sangat menyesalkan sekali tindakan kubu Aburizal Bakrie yang mengirimkan massa bayaran untuk menyerbu DPP Partai Golkar," kata ketua DPP Golkar hasil Munas Ancol, TB Ace Hasan Syadzily dalam pesan singkat, Selasa (9/5/2015).
Menurutnya, kelompok masa itu berasal dari kubu Munas Bali karena yang bernegosiasi dengan polisi adalah wakil ketua umum mereka Aziz Syamsuddin. "Yang menegosiasi kepada pihak Kepolisian ini kan Azis Syamsuddin agar mereka dibiarkan masuk ke DPP Partai Golkar. Jelas sekali itu," ujarnya.
β"Massa bayaran ini terbukti membawa senjata tajam sehingga pihak kepolisian menahan mereka. Kami mengapresiasi kepada pihak kepolisian yang bertindak tegas menindak pihak-pihak yang membuat keributan," imbuh politisi asal Banten itu.
Atas adanya kasus tersebut, kubu Munas Ancol meminta agar kesepakatan damai sementara dua kubu Partai Golkar yang baru ditandatangani ditinjau kembali.
"Jika kondisinya seperti ini lebih baik kesepakatan islah ditinjau ulang kembali," ucapnya.
βHal senada disampaikan ketua DPP Leo Nababan. Menurutnya, penyerangan yang dilakukan pada pukul 03.00 WIB kemarin itu mencederai proses islah antar dua kubu untuk Pilkada.
"Saya poinnya tim kesepakatan pilkada yang sedang islah dibubarkan saja, karena nggak ada gunananya. Kalau islah itu harus ketulusan, ada niat baik," ucap Leo.
"Untuk apa kita buat lagi kesepakatan kalau tidak ada keikhlasan dan ketulusan. Kalau saling serang itu nggak betul lah. Saya pribadi usulkan kesepakatan dibubarkan saja, biar main terus saja. Biar ketahuan siapa yang benar," tegasnya.
(bal/van)











































