“Kemarin sudah kita umumkan, salah satu tujuan program ini adalah memperkenalkan santri dengan budaya dari berbagai negara di ASEAN. Jika selama ini mereka hanya mengenal negara-negara itu lewat buku, sekarang mereka datang langsung,” ujar Direktur PD Pontren Kemenag RI, Mohsen melalui siaran pers, Selasa (9/6/2015).
Sebelum mengikuti ASEAN Outbond, para santri melakukan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) di Bumi Perkemahan Tambang Ulang, Kab Tanah Laut, Kalimantan Selatan, yang berlangsung sejak Senin (1/6) hingga Minggu (7/6). Perkemahan tersebut dibuka langsung oleh Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin. Selain itu, kegiatan ini juga telah memecahkan rekor MURI yakni konfigurasi madihin dengan total 5 ribu peserta.
Sementara itu, pihak Andalan Nasional Kwarnas Gerakan Pramuka, Mardhani Zuhri mengatakan, selama mengunjungi negara-negara ASEAN itu, para santri akan mengunjungi KBRI. Kemudian mendatangi NSO (National Scout Organization), serta mengikuti dialog dan acara kebudayaan. Usai kunjungan, santri memaparkan hasil kunjungan berupa tulisan di blognya masing-masing.
“Kita memberikan akses dan jaringan kepada santri-santri pilihan, 10 atau 20 tahun lagi ini akan sangat bermanfaat bagi mereka, Indonesia dan ASEAN, utamanya dalam menjaga perdamaian. Dari sekarang mereka harus berinteraksi dengan warga ASEAN lainnya”, jelas Mardhani.
Sementara itu Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Adhyaksa Dault menilai dalam kesehariannya santri telah menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab. Menurutnya, untuk bahasa tidak akan menjadi kendala saat mengunjungi negara-negara ASEAN. Namun, dia tetap mengingatkan pentingya memberikan orientasi kunjungan kepada 33 santri tersebut.
“Mereka duta bangsa, jadi harus memiliki banyak ilmu dan pengetahuan tentang Indonesia”, terangnya.
(tfn/vid)











































