Diungkap oleh desainer Hanif Nanjaya kepada detikcom di butiknya, Chili Boutique, Jl. RM Said, Solo, Senin (8/6/2015. Busana pengantin berbahan beludru hitam yang dipilih khusus. Sebagai ornamen hias kebaya dan beskap klasik Jawa dipakai motif untu walang dan lunglungan yang terbuat dari gim (benang emas dan tembaga).
Untu walang dalam bahasa Jawa secara harafiah berati ‘gigi belalang’ dikenal sebagai motif tumpal yang populer sebagai motif batik. Bentuknya segitiga berjajar bersambungan yang umum dipakai sebagai motif pinggiran kain batik.
Bentuk segitiga runcing ini juga melambangkan tunas-tunas atau pucuk rebung. Mengandung makna munculnya kehidupan baru yang terus menerus berkesinambungan. Pemakaian motif ini mengandung makna harapan akan kemakmuran dan kesuburan.
Ornamen hias lain yang dipakai adalah ‘lung-lungan’ atau sulur-sulur tanaman. Motif ini merupakan motif flora atau tanaman yang populer. Rangkaian sulur tanaman yang menjalar bersambungan mengandung makna kemakmuran, kesuburan dan rejeki berlimpahan.
Kedua motif batik yang sarat makna ini akan menjadi ornamen hias berupa sulaman benang gim (benang emas dan tembaga) yang kuning mengilap di atas kain belududru hitam. Baik untuk kebaya pengantin wanita maupun beskap pengantin pria pada saat acara resepsi pernikahan yang akan berlangsung dii Graha Saba, Kamis, 11 Juni 2015.
(odi/vid)











































