DetikNews
Senin 08 Juni 2015, 21:11 WIB

Ketua MPR Mengenang Dua Tahun Wafatnya Taufiq Kiemas

Danu Damarjati - detikNews
Ketua MPR Mengenang Dua Tahun Wafatnya Taufiq Kiemas
Jakarta - Ketua MPR Zulkifli Hasan menghadiri peringatan dua tahun wafatnya eks Ketua MPR Taufiq Kiemas. Zulkifli mengenang jasa suami Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri itu.

"Saya mengajak kita semua mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah swt, Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kita diberi kesempatan berkumpul di sini untuk memperingati dua tahun wafatnya Bapak HM. DR (HC) Taufiq Kiemas yang kita cintai bersama," kata Zulkifli dalam sambutannya.

Acara digelar di kediaman Megawati, Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (8/6/2015). Acara ini dihadiri Presiden Jokowi, Wapres Jusuf Kalla, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dan Ketua Umum Partai Hanura Wiranto‎, juga menteri dari PDIP yakni Mendagri Tjahjo Kumolo dan Menkum HAM Yasonna Hamonangan Laoly. Tak ketinggalan Sekjen PDIP Hasto Kristianto, Wasekjen Ahmad Basarah, dan Sekjen PKB Abdul Kadir Karding.

Zulkifli lantas menuturkan belum lama ini bangsa Indonesia baru saja memperingati Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 tentang Pancasila pada tanggal 1 Juni lalu di Blitar. Dua tahun lalu, Taufiq Kiemas masih mengikuti dan bahkan berbicara pada peringatan yang sama di Ende.

"Itulah peringatan terakhir yang beliau hadiri," kenang Zulkifli.

"Ketika bangsa ini sibuk dengan wacana tentang pemimpin teladan, Bapak HM. Taufiq Kiemas muncul dengan tindakan nyata. Kepemimpinan Pak Taufiq di MPR telah memberi warna pelangi bagi bangsa ini. Kampanye yang gencar tentang 4 Pilar," imbuh Ketua Umum PAN ini.

Empat pilar kebangsaan yang terus disuarakan MPR yaitu Pancasila sebagai dasar dan ideologi Negara, Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi Negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk final Negara dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan dan Negara, tidak hanya sebatas wacana.

"Beliau tampil di depan dengan melakukan dialog dengan semua pihak. Langkah-langkah beliau menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden pada tahun 2009 yaitu mengundang dan mendatangi para pemimpin bangsa menginspirasi kami untuk mengikutinya. Ajaran beliau untuk melakukan sopan santun politik dengan berkunjung kepada para sepuh atau senior, kami lakukan dengan berkunjung kepada Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Presiden dan Wakil Presiden, para Mantan Presiden dan Wakil Presiden, Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden dan para pemimpin Partai Politik," kata Zulkifli.

"Ajaran beliau ini ternyata ampuh. Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden di depan Sidang Paripurna MPR berjalan tertib, lancar dan sukses. Semua yang kami undang dan datangi menghadirinya," imbuh Zulkifli.

Zulkifli memuji keyakinan Taufiq Kiemas tentang pemahaman akan kemajemukan merupakan anugerah bagi bangsa ini tidak sebatas wacana. Taufiq merangkul dan mengajak semua pihak, baik yang dipandang ekstrim kiri maupun yang ekstrim kanan serta moderat untuk bersama-sama mengapresiasi kemajemukan. Bahkan Taufiq meluangkan waktu untuk mengunjungin Abu Bakar Baasyir di Solo dan memberikan bantuan untuk membiayai pondok pesantrennya.

"Pak Taufiq seorang tokoh yang selalu risau. Beliau ingin memutus rantai dendam. Karena itulah beliau mendukung penuh kehadiran Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) yang terdiri dari putra-putri para pelaku PRRI/Permesta, DII/TII dan G-30-S/PKI 1965 serta eksponen 66. Di mata Pak Taufiq, tujuan forum ini adalah memutus mata rantai dendam di masa lalu yang telah menciderai dan memorakporandakan persatuan dan kesatuan bangsa ini," puji Zulkifli.

"Kehadiran FSAB ini merupakan contoh rekonsiliasi nasional dengan menghapuskan dendam dan membuka lembaran baru yang penuh kebersamaan, persaudaraan dan kekeluargaan," imbuhnya.

Selain itu Taufiq Kiemas disebutkan Zulkifli mendorong dan menjadi motor bagi hadirnya Forum Konsultasi Lembaga-lembaga Negara yang terdiri atas Presiden/Wakil Presiden, MPR, DPR, DPD, MA, MK, KY dan BPK. "Pak Taufiq kemudian didaulat menjadi Ketua Kelas," katanya sembari tersenyum.

Taufiq Kiemas juga diapresiasi sebagai tokoh yang memahami demokrasi yang dibangun oleh para pendiri Negara didasarkan pada musyawarah/mufakat. Karena itu Taufiq tidak setuju adanya oposisi di Indonesia seperti di Negara federal. Taufiq memilih posisi penyeimbang.

"Beliau menghindari pengambilan keputusan berdasarkan pemungutan suara. Semua harus melalui musyawarah/mufakat. Tak soal seberapa lama kesepakatan itu akan dicapai. Ini tercermin dalam kepemimpinan beliau yang meminta persetujuan dan tanda tangan semua Pimpinan MPR dalam pengambilan keputusan dan surat menyurat," tegas Zulkifli.

Kerisauan Taufiq Kemas yang paling besar adalah mulai kurangnya pengenalan dan pemahaman masyarakat akan Pancasila sebagai dasar dan ideologi Negara, sebagai fundamental norm, yang menjadi falsafah hidup bangsa. Tidak ada gunanya bicara tentang Undang-Undang Dasar apabila melupakan Pancasila. Karena Pancasila itu menjiwai UUD NRI Tahun 1945. Pancasila itu pula yang memberi makna bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pancasila itu pula yang memberi warna bagi kebhinnekatunggalikaan.

"Pak Taufiq kemudian memberi nama Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan bernegara. Ini dilanjutkan oleh MPR periode 2014-2019 dengan nama Empat Pilar MPR.Bagi Pak Taufiq, Pancasila, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika adalah kontrak social yang telah disepakati pada tanggal 18 Agustus 1945 ketika UUD 1945 disahkan. Sebagai bangsa yang besar, terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, budaya, bahasa yang sudah ada di persada nusantara, tidak ada dalih atau alas an apapun untuk menolak keanekaragaman atau pluralism," papar Zulkifli.

"Karena itu, sejak terpilih menjadi ketua MPR, Pak Taufiq memandang perlu memantapkan kembali empat pilar itu. Menurut Pak Taufiq, pemahaman kembali makna empat pilar itu merupakan satu langkah awal dalam memantapkan bangsa menuju persatuan dan kesatuan bangsa.Banyak keteladanan Pak Taufiq yang diwariskan kepada kita. Tidak cukup sehari dua hari membahasnya. Pak Taufiq adalah mata air keteladanan bagi kita yang tidak pernah kering," imbuh Zulkifli.

"Selamat jalan Pak Taufiq. Semoga kami yang ditinggal dapat meneruskan cita-cita dan perjuanganmu," pungkasnya.




(dnu/van)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed