“Mereka awal Kapal Bintang Samudera 11 dan Bintang Samudera 68,” kata Pelaksana Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Dakar, Setyo Hargiyanto saat dikonfirmasi, Senin (8/6/2015).
Setyo menuturkan berdasarkan pengakuan dari 19 WNI yang selamat mereka di laut selama 18 bulan dan tak juga merapat ke darat. Padahal semestinya 6 bulan harus sudah sandar. Para WNI ini ABK di Kapal Taiwan.
“Yang pertama tewas 23 April, kemudian yang lainnya berurutan tanggalnya,” terang Setyo.
Setyo menuturkan, untuk makan mereka memakan ikan yang ditangkap. Kemudian untuk air, dari pendingin ikan yang dicairkan. Mereka kesulitan merapat ke darat karena kehabisan solar.
“Dua bulan sebelumnya mereka sudah mengontak perusahaan, tetapi tidak segera datang. Hingga akhirnya dua bulan kemudian datang,” tuturnya.
Fisik yang lemah membuat lima ABK WNI ini akhirnya meninggal dunia. Pada akhir Mei kapal mendapat pasokan solar dan akhirnya merapat. Kontak juga dilakukan dengan KBRI Dakar. Otoritas di Senegal menurut Setyo amat membantu. Mereka menyiapkan dokter dan ambulans.
“Saat merapat ke pelabuhan, karena disangka ada epidemi semua makanan dan ikan yang ditangkap dibuang ke laut,” imbuh dia.
19 WNI yang selamat kini berada di penampungan dan mendapat makanan dan minuman yang memadai. “Semua sudah mendapat gaji dibayar penuh, sekarang sedang menunggu pemulangan. Kami KBRI melakukan pemantauan, selalu kontak terus,” tutup dia.
(ndr/mad)










































