Seperti contohnya di tahun 2012, ketika ekspedisi dilakukan di Kalimantan dengan tajuk Ekspedisi Khatulistiwa. Berbagai temuan dan hasil penjelajahan menjadi pelajaran berharga untuk membangun negeri melalui ekspedisi yang melibatkan banyak pihak.
Komandan Ekspedisi 2015 yang juga menjabat sebagai Danjen Kopassus Mayjen TNI Doni Monardo menilik kembali ketika pelaksanaan Ekspedisi Khatulistiwa. Saat itu tim melakukan penjelajahan sejauh 2.000 km dan menemukan patok batas dengan Malaysia yang hilang.
"Ketika tim melakukan ekspedisi di koridor Kalimantan, kami melakukan penjelajahan sejauh 2.000 km lebih dan ditemukan lebih dari 1.500 patok batas yang hilang. Ada juga yang belum tertanam. Mungkin tim sebelumnya belum berhasil mendaki atau bagaimana," kata Doni saat jumpa pers di Hotel Jayakarta, Labuan Bajo, Jumat (5/6/2015) malam.
Doni mengatakan temuan itu langsung dilaporkan ke pemerintah pusat untuk segera diproses sebagaimana mestinya. Patok-patok batas itu penting sebagai tanda perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia.
"Hasil ini sudah kami laporkan ke pemerintah dan semoga patok-patok itu bisa dipasang. Tapi ini melibatkan dua negara melalui Kementerian Luar Negeri, tidak bisa dari kita saja," ujar Doni.
Untuk Ekspedisi NKRI 2015 sendiri, ada beberapa indikasi pulau-pulau di wilayah Nusa Tenggara yang dikuasai oleh pihak asing. Ditempat yang sama, Deputi Menko PMK bidang Koordinasi Kerawanan Sosial dan Dampak Bencana Willem Rampangilei menegaskan bahwa praktik jual-beli pulau itu tentu menjadi perhatian pemerintah dan segera ditindaklanjuti.
"Ini merupakan concern kami semua dan temuan kami juga, di situ sudah menjadi perhatian kita," ucap Willem.
(dha/fdn)











































