"Adanya potensi hilangnya tanaman legendaris yaitu cendana karena semakin sedikit masyarakat yang menanam cendana," kata Doni saat jumpa pers di Hotel Jayakarta, Labuan Bajo, Jumat (6/6/2016) malam.
Oleh sebab itu, Doni telah menginstruksikan tim untuk โmelakukan pembibitan sehingga nantinya tanaman cendana dapat ditanam di wilayah Nusa Tenggara. Sejauh ini, Doni menyebut telah menyiapkan 30 ribu bibit cendana.
"Saya sudah 8 bulan lalu melalui upaya kerja sama di Alor untuk membuat pembibitan cendana. Ada 30 ribu bibit cendana, 20 ribu bibit itu gratis dan 10 ribu sisanya dalam proses. Setelah mencapai tinggi 1 meter kami distribusikan di wilayah Nusa Tenggara," ucap Doni.
Penanaman pohon itu juga bertujuan untuk menjaga alam agar tetap dapat menopang keberadaan sumber mata air di wilayah Nusa Tenggara dan sekitarnya. Doni menyebut dari 8 subkorwil terdapat 6 subkorwil yang melaporkan tentang keterbatasan air.
โ"Dari 8 subkorwil itu 6 subkorwil melaporkan soal keterbatasan air, ada indikasi penurunan saat kemarau, beberapa tahun terakhir semakin berkurang, karena sebagian kawasan hulu pohonnya banyak ditebang. Kami dari ekspedisi sudah berusaha maksimal untuk mengingatkan, kami juga mengimbau dinas kehutanan untuk semaksimal mungkin berbagai program melindungi hutan. Tapi kemampuan dinas belum memadai, kami mengirim puluhan ribu tanaman dari Jakarta dengan pesawat Hercules, kami juga menanam bukan hanya di hulu tapi juga sekitar pemukiman masyarakat, karena kalau tidak kami ingatkan maka tahun demi tahun debit air di daerah akan berkurang, mata air akan hilang dan berganti menjadi air mata," ujar Doni.
Selain itu di tempat yang sama, Danrem 161 Wirasakti Kupang Brigjen Achmad Yuliarto mengatakan di wilayahnya telah terdapat pompa air hidrolik. Pompa itu digunakan untuk mengangkat air dari dalam tanah tanpa menggunakan mesin.
"Bisa mengangkat air dari kedalaman 500 meter. Itu ada 130 titik dan di Nusa Tenggara Timur sendiri ada 30 titik, ini tanpa mesin karena pakai gaya gravitasi. Dananya ini ada CSR, ada dari masyarakat dan dari kita sendiri," kata Achmad.
(dha/fdn)











































