"Barusan saya disemprot sama Pak Bupati Purwakarta, dia bilang jalan tolnya itu namanya Cikopo-Palimanan bukan Cikampek yang letaknya di Karawang. Sampai kaget saya," kisah Sandiaga kepada detikcom melalui pesan singkat, Jumat (5/6/2015).
Sandiaga mengatakan, 'semprotan' tersebut bertujuan untuk meluruskan pemberitaan yang selama ini salah. Mendapat teguran dalam bahasa Sunda itu, Sandiaga menilai Dedi orang yang sangat suportif.
"Dia minta diluruskan dan diingatkan Pak Menteri PU. Jujur, beliau sangat suportif di Purwakarta. Kita merasakan kontribusi Pemkab dan Pak Bupati yang terjun langsung membantu percepatan pembangunan. Orangnya cukup unik," sambungnya.
"Dia ngomel-ngomel pakai bahasa Sunda. Sementara Sunda saya minim banget karena tidak pernah diajari benar haha," imbuh Sandiaga.
Ditemui dalam kesempatan terpisah, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) Basuki Hadimuljono menyebut di peraturan menteri (Permen) nama proyek jalan tol tersebut ditulis Cikampek-Palimanan (Cikapali). Menanggapi protes Dedi, Basuki tidak ingin memperpanjangnya.
"Nama nanti diganti Cikopo-Palimanan, it's ok. Kalau di Permen itu Cikampek. Lha yo wis toh, ternyata Jakarta-Cikopo. Tapi nggak masalah lah, masa gitu saja jadi masalah," ujar Basuki saat dikonfirmasi wartawan di Istana Bogor, Jawa Barat, hari ini.
"Ya nggak apa-apa, nanti diumumkan ke Pak Presiden dengan nama Cikopali juga nggak apa-apa. No problem," lanjutnya.
Basuki mengatakan pihaknya bisa saja mengganti nama daerah proyek jalan tol seperti yang diralat oleh Dedi. Namun, dia tentu butuh waktu karena harus mengubah Permen yang sudah ada sebelum ini.
"Saya ganti dulu Permennya, itu kan berdasarkan Permen PU yang dulu. Sama saja di media kalau nulis Jakarta-Cikampek bukan Jakarta-Cikopo, kalau saya sih. Kalau memang harus Cikopo ya Cikopo, wong soal nama saja loh. Masa gitu saja ribet banget, apa susahnya sih," tutup Basuki.
(mad/fjr)











































