Sepenggal Kisah Maria Magdalena Rubinem, Sinden Istana di Era Sukarno

Sepenggal Kisah Maria Magdalena Rubinem, Sinden Istana di Era Sukarno

Sukma Indah Permana - detikNews
Jumat, 05 Jun 2015 13:07 WIB
Sepenggal Kisah Maria Magdalena Rubinem, Sinden Istana di Era Sukarno
foto: Sukma/detikcom
Yogyakarta - Siapa sangka wanita renta yang kini tinggal di sebuah kontrakan di sudut Kota Yogyakarta ini dulunya adalah sinden ‎istana di era Presiden Sukarno. Namanya, Maria Magdalena Rubinem, pesinden yang sangat terkenal asal Yogyakarta.

"Saya dulu nyinden di Istana tahun 1951-1952, Pak Karno memang senang sekali sama budaya Jawa," ujar kepada detikcom dengan bahasa Jawa di rumah kontrakannya di Jalan Magelang KM 7‎, Sleman, Jumat (5/6/2015).

Meski kini usianya sudah 90 tahun, Rubinem mengaku masih bisa menyanyikan lagu-lagu Jawa. Setiap hari dia masih bersenandung tembang Macapat‎ (tembang tradisional Jawa) favoritnya.

"Tiap hari masih nembang-nembang sendiri," tuturnya sambil tersenyum.

Wanita yang memiliki tiga anak angkat ini mengatakan kariernya sebagai sinden profesional dimulainya sejak tahun 1945. Menjadi pegawai RRI saat itu, membuatnya sangat tersohor di Yogyakarta sebagai sinden bersuara emas.

"Tapi sebelum kemerdekaan juga saya sudah nyinden. Saya ini sinden tiga zaman, sebelum kemerdekaan, zaman kemerdekaan, dan zaman Pak Karno," imbuhnya.

Bahkan Rubinem masih mengingat pemboman kantor RRI Yogyakarta ‎yang saat itu masih berlokasi di sebelah utara Alun-alun Lor. Tepatnya di gedung yang dibangun Belanda dan sekarang menjadi Gedung BNI 46 Yogyakarta.

"Dulu teman saya banyak yang meninggal, beruntung saya libur siaran saat itu," tutur Rubinem.

Karena suara emasnya, Rubinem kemudian ditugasnya ke RRI Jakarta pada tahun 1951. Di Jakarta inilah dia menjadi sinden istana yang setidaknya sebulan sekali tampil di acara kenegaraan.

"Setiap bulan dulu di istana ada wayangan, gaji saya Rp 350 saat itu sudah banyak," katanya.

Selama tinggal di Jakarta, Rubinem menyewa rumah di kawasan Sentiong. Namun karena sang ibu sakit, Rubinem hanya bertahan setahun di Jakarta dan kemudian pulang ke Yogyakarta kembali bertugas di kota kelahirannya.

Saat ditanyai siapa yang mengajari Rubinem menjadi sinden, wanita yang pendengarannya telah berkurang ini mengaku belajar sendiri. Rumahnya semasa kecil yang terletak di Ngadiwinatan, tak jauh dari Keraton membuatnya sering menonton wayang.

"Saya nggak sekolah, buta huruf. Jadi kalau dengar orang nembang saya tirukan,‎" ujar Rubinem.

Rubinem kini tinggal bersama dua pemuda yang berjualan mi di depan rumah kontrakannya. Hingga dua tahun yang lalu, Rubinem masih mampu berjualan gudeg.

Namun karena sempat terjatuh dan penyakit vertigo yang dideritanya, Rubinem berhenti menjual gudeg. Sedangkan anak-anak angkatnya setiap hari datang menjenguk Rubinem.

(sip/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads