Ini Aneka Kejanggalan Surat Wasiat 'Perpisahan' Akseyna, Ditulis Pembunuh?

Misteri Kematian Mahasiswa UI

Ini Aneka Kejanggalan Surat Wasiat 'Perpisahan' Akseyna, Ditulis Pembunuh?

Fajar Pratama - detikNews
Jumat, 05 Jun 2015 11:13 WIB
Ini Aneka Kejanggalan Surat Wasiat Perpisahan Akseyna, Ditulis Pembunuh?
Jakarta - Polisi menyatakan Akseyna Ahad Dori tewas dibunuh oleh pelaku yang sampai saat ini masih dilacak identitasnya. Kemunculan surat wasiat 'perpisahan' yang mengatasnamakan Akseyna bisa menjadi titik terang pengungakapn pelaku. Sejak awal banyak ditemukan kejanggalan di dalam surat itu.

Kolonel Sus Mardoto, Ayah Akseyna Ahad Dori (Ace), menulis panjang lebar tentang kematian mahasiswa biologi UI itu di situs pribadinya. Tulisan terbarunya berjudul Pernyataan Resmi Akseyna Ahad Dori mengenai apa yang Selama Ini Disebut Sebagai 'Surat' Akseyna Ahad Dori, Senin (25/5/2015).

Poin pokok dari tulisan di web mardoto.com itu adalah keluarga Mardoto sangat tidak meyakini apa yang selama ini disebut sebagai "surat" Akseyna ditulis oleh Akseyna. Hal ini didasarkan pada sejumlah bukti formal/prosedural dan material, yaitu:

Banyak orang yang telah masuk kamar Ace sebelum polisi melakukan penyelidikan. Dalam kurun waktu sejak orangtua kontak terakhir dengan Ace pada Sabtu, 21 Maret 2015, setidak-tidaknya selama 4 hari sejak jenazah ditemukan di Danau Kenanga UI pada Kamis, 26 Maret 2015 hingga Mardoto memastikan bahwa jenazah tersebut adalah Ace pada Senin 30 Maret 2015 sekitar pukul 17.30 WIB, telah banyak orang telah memasuki kamar Ace. Hal ini telah mendahului kegiatan penyelidikan polisi yang baru dimulai pada 30 Maret 2015 sekitar pukul 18.30 WIB.

"Di antaranya adalah beberapa teman Ace yang mendatangi kamar Ace beberapa kali. Bahkan, ada teman Ace yang masuk ke dalam kamar Ace dan menginap di kamar tersebut (Minggu 29 Maret 2015 malam). Padahal, tidak ada satu pun keluarga Ace yang pernah meminta atau menyuruh siapapun untuk masuk bahkan menginap di kamar Ace," kata Mardoto.

Tante Ace yang datang untuk mencari atau mengecek keberadaan Minggu 29 Maret 2015 siang juga tidak masuk ke kamar Ace yang saat itu kondisinya terkunci. Tante Ace juga tidak ditawari oleh penjaga kos untuk masuk dan mengecek ke kamar Ace.

"Dengan banyaknya orang yang telah masuk ke kamar Ace, tidak ada seorang pun yang dapat menjamin bahwa di antara orang-orang tersebut tidak melakukan tindakan/upaya apa-apa, termasuk terkait dengan keberadaan/pemunculan apa yang dikatakan sebagai β€œsurat” Ace," tutur Mardoto.

Kedua, ibu Ace berhasil menelepon HP Ace yang aktif pada Minggu 29 Maret 2015 malam. Ibu sempat bicara dengan penerima HP tersebut yang mengaku sebagai teman Ace dan yang bersangkutan menyebutkan bahwa ia berada di dalam kamar Ace. Keberadaan yang bersangkutan di kamar Ace dilakukannya bukan karena permintaan dari orangtua Ace.

Beberapa orang yang dikatakan sebagai teman Ace juga berada di dalam kamar Ace pada Senin, 30 maret 2015 hingga polisi mulai masuk melakukan penyelidikan ke kamar kos Ace pada hari yang sama sekitar pukul 18.30 WIB, setelah Mardoto mengkonfirmasi bahwa jenazah yang ditemukan di Danau Kenanga UI tersebut adalah Ace. Saat polisi tiba, kamar sudah dalam kondisi berantakan. HP dan laptop Ace sudah diakses atau diotak-atik, koper berisi barang-barang dan baju juga telah terbuka, buku-buku dan perlengkapan lain di meja belajar sudah berserakan.

"Kondisi ini memungkinkan banyak hal terjadi di dalam kamar Ace, termasuk kemungkinan berubahnya bentuk, letak, dan kondisi barang-barang yang seharusnya bisa menjadi barang bukti, termasuk pemunculan 'surat' Ace.

Ketiga, tidak ada informasi penemuan surat dari teman Ace dalam percakapan telepon Minggu, 29 Maret 2015 malam. Hari Minggu 29 Maret 2015 sekitar pukul 21.00 WIB, SMS Ibu Ace yang dikirim ke HP Ace siang hari setelah Tante Ace menyampaikan informasi Ace tidak ada di tempat kos, yang sebelumnya pending, tiba-tiba terkirim. Secepatnya, ibu Ace langsung menelepon HP Ace dan diterima oleh teman Ace.

Teman Ace tersebut mengatakan bahwa ia berada di dalam kamar Ace. Pada saat percakapan via telepon tersebut, dia tidak pernah menyebutkan adanya penemuan 'surat' Ace.

"Nalarnya, apabila sejak awal 'surat' tersebut sudah ada di kamar Ace, maka bila ia masuk dan berada di kamar Ace, seharusnya sudah langsung bisa menemukan atau melihat atau membaca surat tersebut lalu menginformasikannya pada orangtua yang sedang mencari keberadaan Ace," ucapnya.

Keempat, Senin 30 Maret 2015 siang tiba-tiba muncul informasi penemuan 'surat' Ace'. Hari itu juga sekitar pukul 15.30 WIB, ibu Ace kembali mencoba menelepon HP Ace, terdengar nada masuk tetapi tidak diangkat. Selanjutnya ibu Ace menelepon penjaga kos Ace dan menanyakan kabar Ace. Penjaga kost menyampaikan bahwa Ace belum pulang dan menyatakan bahwa ada banyak teman Ace yang berada di kamar Ace sedang mengakses laptop Ace yang katanya banyak dipasang password.

Selanjutnya Ibu Ace melalui penjaga kost meminta agar ada teman Ace menerima hubungan telepon ibu Ace lewat HP Ace karena ingin menanyakan keadaan Ace. Pada saat ditelepon, teman Ace menyebutkan bahwa ia sedang di dalam kamar Ace bersama beberapa teman lain. Pada saat itu teman Ace menyampaikan bahwa barang-barang Ace berupa laptop, HP dan dompet ada di dalam kamar. Padahal saat Minggu 29 Maret 2015 malam saat komunikasi dengan keluarga Ace tidak diinformasikan hal tersebut. Teman Ace juga menyampaikan jaket atau jamper semua ada di kos kecuali yang berwarna biru tua yang ada tulisan Universitas Indonesia. Mardoto heran dengan detilnya barang-barang yang disampaikan teman Ace tersebut.

Saat itu pula teman Ace menyampaikan bila dia menemukan secarik kertas dengan tulisan yang dikatakannya tulisan Ace namun tidak menyampaikan secara pasti apa isinya. Bahkan ketika ibu Ace meminta membacakan tulisan itu teman Ace tersebut hanya bilang intinya Ace pergi. Pada sisi lain, pada waktu tersebut Ayah Ace belum memastikan bahwa jenazah yang ditemukan di Danau Kenanga UI adalah Ace.

Kelima, pada foto 'surat' yang tersebar berbentuk tempelan di dinding. Pada banyak media, foto atau capture 'surat' yang tersebar berbentuk foto 'surat' yang tertempel paku di dinding. Hal ini memunculkan pertanyaan sekaligus kecurigaan oleh keluarga Ace, dari mana dan siapa yang menyebarkan foto tersebut, karena yang didapatkan penyidik atau polisi adalah 'surat' berbentuk lembaran yang diserahkan oleh Ayah Ace.

Penyebaran foto 'surat' yang tertempel di dinding pasti memiliki motif yang tendensius untuk membuat berkembangnya opini bahwa 'surat' tersebut memang tertempel di dinding kamar kost Ace. Padahal, belum ada pihak yang bisa memastikan bahwa 'surat' tersebut benar-benar tertempel di dinding kamar kos Ace, karena bukan polisi yang mendapatkannya.

Atas keganjilan-keganjilan itu, maka keluarga keberatan dengan istilah 'surat wasiat' Ace. 'Surat' Ace cenderung membangun opini bahwa 'surat itu seakan-akan memang ditulis oleh Ace.

Mardoto menyebut, jika ditelisik, bentuk tulisan dan tanda tangan Ace di 'surat' tersebut berbeda. Pertama, pada kata for. Ada tiga kata for di 'surat' tersebut dan ketiganya memiliki bentuk berbeda. Orang awam pun bisa melihat kejanggalan ini dengan jelas. Kedua, tulisan existence dan beberapa kata lainnya memiliki bentuk atau kemiringan huruf yang sangat mencolok perbedaannya dengan huruf-huruf pada kata-kata yang lain juga. Ketiga, jarak spasi antar satu kata dengan kata lainnya berbeda-beda dan tidak beraturan. Keempat, tanda tangan di 'surat' tersebut sangat tidak mirip dengan tanda tangan Ace di KTP yang reguler maupun yang e-KTP. Kelima, tata bahasa 'surat' dalam bahasa Inggris itu tidak beraturan.

"Keluarga mengenal Ace memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik karena sudah terbiasa membaca jurnal ilmiah berbahasa Inggris, novel-novel bahasa Inggris dan menonton film-film berbahasa Inggris tanpa subtitle. Bahkan sewaktu di SMP saja sudah memperoleh TOEFL 433," jelas Mardoto.

Keganjilan Versi Grafolog

Surat ini sudah dianalisis oleh grafolog, dari American Handwriting Analysis Foundation, Deborah Dewi. Dia menyatakan surat wasiat Akseyna dibuat oleh dua orang. Surat itu ditulis oleh Akseyna dan orang lain. Deborah sudah menyampaikan analisisnya ke kepolisian.

"Setelah melakukan proses analisa dengan dokumen asli dari pihak kepolisian, melalui pembesaran mikroskopik 200x saya temukan bahwa tulisan tangan dalam surat tersebut milik 2 orang," kata Deborah kepada detikcom, Jumat (22/5/2015).

Menurutnya ada indikator grafis yang menunjukkan bukti bahwa tulisan tangan di "surat wasiat" tersebut dibuat oleh 2 orang. Pada bagian pertama ditulis oleh Akseyna dan di bagian revisi oleh orang lain.

"Tulisan tangan bagian pertama identik dengan tulisan tangan almarhum (asli), sementara ada bagian tulisan tangan dan tanda tangan yang dibuat oleh orang lain. Bagian yang ditulis oleh orang lain adalah bagian yang direvisi berikut penambahannya (not, for eternity, existence) dan tanda tangan," ucapnya.

Dari banyaknya kejanggalan dalam surat itu, mungkinkah surat itu ditulis oleh pelaku, untuk menutupi jejak pembunuhan itu? Mari kita tunggu hasil penyidikan kepolisian.

(faj/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads