Salah seorang saksi yang dihadirkan yaitu Sandi, pengemudi Outlander yang merupakan supir dari Ali (pemilik Outlander). Ali juga merupakan teman Christopher. Dalam kesaksiannya, Sandi menyebut sesaat sebelum Ali turun, sempat ada kejadian tape mobil yang berulang-ulang dimatikan dan dihidupkan.
"Oleh siapa tape tersebut dimatikan kemudian dihidupkan terus berulang-ulang?" tanya JPU, dalam persidangan di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Jakarta, Kamis (4/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak berapa lama, Ali memutuskan untuk turun di wilayah Mayestik, Kebayoran Baru. Sementara Sandi dan Christhoper meneruskan perjalanan ke arah Pondok Indah.
"Apakah mereka sempat bertengkar sebelum Ali turun?" tanya anggota majelis hakim.
"Tidak," jawab Sandi.
Sandi menuturkan, saat sampai di underpass di dekat Gandaria City tiba-tiba Christopher bergumam 'Percayalah sama saya pak'. Saat telepon genggam Sandi berbunyi, Christopher langsung mengambilnya dan melemparkan ke luar. Setelah itu Christopher memegang pundak Sandi dan mencekik lehernya.
"Saya menghentikan mobil, melepas seat belt dan ke luar dari mobil," tutur Sandi.
"Kenapa Anda tidak bertanya 'kenapa kamu buang handphone saya'," tanya majelis hakim.
"Saya takut, saya panik, saya tinggalkan mobilnya," ungkap Sandi.
Sandi ke luar mobil dan mencari-cari handphonenya. Sementara Christopher langsung mengemudikan Outlander milik Ali tersebut.
Beberapa saat kemudian, Sandi melihat Outlander tersebut menabrak sepeda motor. Ia pun segera mendekati pemotor tersebut yang diketahui sudah tak bernyawa. Sementara Christopher terus melaju dengan Outlandernya tanpa peduli dengan sepeda motor yang ia tabrak. (rna/mad)











































