"Kasus kemarin entah di luar pakem. Kita tidak tahu apa motifnya, ini sangat tidak masuk akal," kata Wasekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda indonesia (MIUMI) Fahmy Salim saat rombongan bertemu KJRI Istanbul di kantor KJRI, Istanbul, Rabu (3/5/2015).
Menurutnya, dalam berita acara pemeriksaan yang dibuat kepolisian dan jaksa Turki, rombongan FIPS yang turut membawa 3 wartawan dilaporkan penumpang ingin bergabung dengan ISIS melalui provinsi Hatay.
Padahal agenda ke Hatay adalah untuk pemberian donasi kemanusiaan untuk rumah sakit darurat yang berdiri di Latakia, Suriah dan untuk melihat pengungsian warga Suriah di Hatay yang difasilitasi organisasi kemanusiaan terbesar di Turki, IHH.
"Kami bawa wartawan tujuannya untuk melihat bahwa bantuan kemanusiaan dijamin akan sampai kepada rakyat yang alami krisis dan tidak ada sangkut pautnya dengan isu ISIS. Justru kita bantu pemerintah clearkan isu ISIS," tegas Fahmy.
Sementara perwakilan dari Muhammadiyah yang ikut dalam rombongan, Mustofa Nahra Wardaya, mengatakan penangkapan 10 WNI yang hendak ke Hatay dianggap skenario yang sudah direncanakan. Dia turut memprotes dan akan membahas hal ini lebih jauh ketika sampai di Indonesia.
"Kami merasa keberatan. Mungkin ini akan kami tuntut karena di surat alat-alat (yang disita) kembali seperti semula, ternyata kamera tidak kembali 100 persen (banyak foto dihapus -red)," ucap Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Muhammadiyah itu.
Hal senada juga disampaikan perwakilan Tim Pengacara Muslim, Achmad Michdan. Pihaknya meminta KJRI melayangkan nota protes karena rombongan dalam misi kemanusiaan itu dikaitkan dengan ISIS dan diperlakukan seperti terduga ISIS.
"Kami dirugikan secara hukum dan secara isu. Kalau diduga dari awal (terkait ISIS) nggak usah naik pesawat. Ini sesuatu yang amat janggal, ada hak yang dilanggar baik dari perlakuan dan dokumen (yang dihapus)," ucapnya.
Sementara Fungsi Prokokol dan Konsuler KJRI Istanbul, Maya Damayanti meminta agar beberapa keberatan akibat proses pemeriksaan kepada 10 WNI itu, dibuat secara tertulis untuk ditindaklanjuti.
"Sebetulnya kami tak bisa janjikan apapun, kami akan berupaya semaksimal mungkin dibantu KBRI di Ankara," ucap Maya.
(iqb/ahy)











































