KJRI Istanbul Undang 10 WNI yang Sempat Ditahan Polisi di Bandara

Laporan dari Istanbul

KJRI Istanbul Undang 10 WNI yang Sempat Ditahan Polisi di Bandara

M Iqbal - detikNews
Rabu, 03 Jun 2015 20:19 WIB
KJRI Istanbul Undang 10 WNI yang Sempat Ditahan Polisi di Bandara
Jakarta - Sebanyak 10 WNI yang hendak terbang dari Istanbul menuju provinsi yang berbatasan dengan Suriah, Hatay, dipaksa turun dari pesawat Turkish Airline dan ditahan polisi kontra terorisme di Bandara Ataturk selama 4 jam. Konsulat Jenderal RI (KJRI) menyayangkan adanya peristiwa penahanan itu.

"Saya prihatin dan sedih sekali tujuan dan misi bapak-bapak tidak maksimal, terhambat, meski kemarin sore saya dengar misi memberikan bantuan (untuk Suriah) sudah dilakasanakan," kata pelaksana tugas KJRI Istanbul, Harlan H Hakim, dalam pertemuan dengan rombongan di kantornya, Rabu (3/5/2015).

Menurut Harlan, seharusnya peristiwa tersebut tak terjadi jika ada koordinasi dan komunikasi yang baik.‎ Panitia rombongan dari Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) sudah berkomunikasi dengan KJRI Istanbul dan KBRI Turki, namun khusus KBRI Turki hanya melalui telepon dan email belum ada pertemuan.

"Saya juga ingin sampaikan inilah tipikal negara yang kita berada sekarang Turki, dan daerah itu (Hatay) memang menjadi kawasan khusus oleh pemerintah Turki," ujarnya soal perilaku kasar polisi saat menggeledah rombongan FIPS di bandara.

"Kami di sini KJRI Istanbul tugas utamanya memberikan pelayan terbaik kepada WNI yang datang, transit atau berkunjung ke sini. Harapan kami yang akan datang tidak terjadi lagi," imbuhnya.

Sementara itu, Sekjen FIPS Wisnu Teguh, mengatakan kedatangan pihaknya ke Turki dengan mengundang 3 tokoh organisasi Islam Indonesia dan 3 wartawan, untuk memberikan bantuan bagi korban krisis kemanusiaan di Suriah.

‎Selain itu, misi pentingnya adalah untuk melaporkan tentang kondisi Suriah yang ditimpa krisis kemanusiaan karena penindasan rezim Presiden Bashar kepada rakyat yang mengingkan pergantian rezim. Terlebih, karena isu kemanusiaan Suriah di Indonesia tertutupi isu ISIS.

"‎Kami rombongan ini memiliki hajat dan niatan yang insya Allah bisa menjadi niatan kita bersama, di mana bisa mengharumkan nama baik negeri kita untuk memberikan ungkapan kepedulian kepada sesama yang selama ini menurut kami kurang ada perhatian yang cukup," papar Wisnu.

Menurutnya, Sekjen PBB Ban Ki Moon sudah merilis ada‎ 2 juta lebih pengungsi Suriah yang berada di Turki. PBB sudah memberi lampu hijau bagi seluruh lembaga kemanusiaan baik swasta maupun pemerintah untuk memberikan bantuan kepada warga Suriah.

‎"Terkait Suriah kami melihat masih agak kurang dalam kepeduliannya, khususnya di masyarakat Indonesia. Ditambah lagi isu yang beredar di negeri kita sangat kontraproduktif dengan imbauan dari PBB," ujarnya.

"Ketika seluruh dunia mengumumkan untuk memberikan bantuan, namun di negeri kita orang yang memberikan bantuan ke Suriah dikonotasikan negatif," ucap Wisnu.

Sebelumnya, sebanyak 10 WNI yaitu 4 panitia Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS), 3 tokoh organisasi Islam Indonesia, dan 3 jurnalis termasuk detikcom, dipaksa turun dari pesawat Turkish Airline saat hendak lepas landas menuju Provinsi Hatay.

Seluruh alat komunikasi disita dan digeledah termasuk paspor. Rombongan kemudian digiring ke kantor kepolisian kontra terorisme di bandara Ataturk. Sebanyak 4 orang diinterogasi, termasuk detikcom. Materi pertanyaan interogasi selalu dikaitkan dengan ISIS.

Belakangan, penahanan selama 4 jam tersebut bermula dari laporan penumpang pesawat yang duduk di bangku 20A, yang mendengar di antara rombongan mengatakan ingin bergabung dengan ISIS dengan ucapan bahasa arab.

Padahal tidak ada satupun dari 10 itu yang bicara ISIS di pesawat. Si pelapor belakangan ternyata tidak diperiksa oleh polisi. Hanya 10 WNI yang digiring hingga akhirnya dinyatakan bebas dan bisa lanjutkan perjalanan ke Hatay.

Namun atas rekomendasi KBRI, perjalanan ke Hatay yang berbatasan langsung dengan Suriah dibatalkan. Tim menyerahkan bantuan itu melalui seorang direktur rumah sakit di Suriah yang diundang ke Istanbul oleh FIPS.

‎Rombongan dari Forum Indonesia Peduli Syam‎ (FIPS) tiba di Istanbul pada tanggal 28 Mei. Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan adalah berdialog dengan organisasi kemanusian terbesar yang membantu pengungsi Suriah (IHH) di Turki. Lalu berdialog dengan ulama asal Suriah soal krisis Suriah.

Kemudian pada (31/5), menghadiri peringatan 5 tahun tragedi Mavi Marmara, yaitu tragedi penyerangan kapal bantuan dari berbagai negara yang hendak menuju Palestina‎. Tim FIPS sudah bertemu Wakil Menteri Luar Negeri dan pimpinan DPR sebelum terbang ke Turki.

(iqb/hri)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads