Bakteri E Coli di PT DSA Ambon Lebihi Batas Normal
Jumat, 18 Feb 2005 13:11 WIB
Ambon - Hasil uji mutu air yang dilakukan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL-PPM) Kota Ambon terhadap perusahaan swasta air minum PT Dream Sukses Airindo (DSA), yang diduga sebagai penyebab diare di Ambon, ditemukan kuman Escerisia Coli (E.coli) yang melebihi standar normal."Dari empat titik itu, ada tiga titik yang melebihi standar. Hasilnya positif ada kuman E.coli yang melebihi standar. Hasil pengujian ini sudah kita sampaikan ke pihak DSA sekaligus dengan beberapa rekomendasi yang harus dilakukan," kata Kepala BTKL-PPM Ambon Johny Sumbung kepada detikcom di ruang kerjanya, Dinkes Kota Ambon, Jl. Ina Tuny Karang Panjang, Ambon, Jumat (18/2/2005). Temuan tersebut diketahui setelah dilakukan pemeriksaan sampel air di empat titik, masing-masing dua resevoar DSA di Karang Panjang dan Air Besar Ahuru, serta dua jaringan distribusi pipa DSA di Wainitu dan Air Panas. Parameter pemeriksaan labotarium meliputi sifat fisik air yang mencakup warna, rasa, suhu dan bau. Ditambah dengan parameter kimia yakni organik dan anorganik. Mengacu dari Peraturan Menkes No. 416 Tahun 1990, tentang air bersih, maka standar normal air bersih yakni 10/100 mililiter jumlah bakteri dalam sampel air. "Bakteri E.coli yang terkandung pada air yang dijadikan sampel sudah melebihi standar normal masing-masing di resevoar DSA di Karang Panjang dan Air Besar Ahuru serta jaringan distribusi di Wainitu," ungkap dia.Meski dinyatakan positif mengandung bakteri E.coli, menurutnya, masyarakat sekarang sudah aman mengkonsumsi air DSA karena telah dilakukan pengurasan bak penampung air dan diberi kapurisasi. Sumbung juga tidak bisa memastikan apakah penyebab penyakit diare yang menyerang warga Ambon berasal dari air milik PT. DSA. Karena menurutnya, ada faktor-faktor lain yang perlu dikaji soal asal mula terjadinya diare.Air Isi UlangDikatakan, ada kemungkinan penyebab diare disebabkan oleh air isi ulang yang tidak higienis kemudian dikonsumsi oleh masyarakat. "Di masyarakat banyak terdapat depot air isi ulang yang tidak berijin. Belum ada pemantauan ke situ, namun dugaan kami kemungkinan besar mutu dari air isi ulang ini tidak layak untuk diminum. Karena kita tidak tahu sumber airnya diambil dari mana atau saat proses ozon, ada badan air yang lolos sehingga kuman tidak terbunuh. Ini berbahaya untuk dikonsumsi," katanya.Disebutkan, pihaknya bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Ambon dalam waktu dekat akan melakukan registrasi kembali, serta pemantauan secara rutin terhadap depot-depot pengisian air isi ulang yang tersebar di Kota Ambon. Di tempat berbeda, Kepala Tata Usaha BTKL-PPM Ambon Edy Adriansz menuturkan, saat pihaknya melakukan inspeksi sanitasi di PT. DSA ditemukan beberapa sarana air untuk masyarakat yang harus diperbaiki guna mencegah perkembangan kuman. Salah satunya resevoar atau lubang pipa air yang harus diperbaiki karena sudah lama tempat tersebut hanya ditutupi oleh papan kayu dan itu tidak memenuhi syarat dan tidak terjamin kebersihannya. Begitu pula dengan meanhole (pipa berkarat) harus segera diganti.Terkait dengan penyebaran bakteri diare di Ambon, salah satu Ketua RW di Karang Panjang, Ot Lawalata mengatakan, kasus penderita diare yang kebanyakan berasal dari kawasan Karang Panjang merupakan kesalahan dari PT. DSA.Dia menuding perusahaan minum milik Belanda itu merupakan dalang munculnya penyakit diare sebab dicurigai ada bakteri dalam air yang tersalur ke masyarakat. Lawalata yang juga Ketua Perwakilan Komnas HAM Daerah Maluku ini menambahkan, dirinya sudah menyampaikan hal tersebut ke PT. DSA yang bermarkas di Karang Panjang beberapa kali. Kedatangannya sekaligus membawa hasil saringan air yang menunjukkan air yang disalurkan ke masyarakat sangat kotor."DSA sangat lambat dalam masalah ini, padahal masalah ini sudah pernah saya laporkan ke mereka, dan imbasnya terjadi kasus diare ini," sesalnya. Lawalata juga menyayangkan sikap dinas kesehatan kota maupun provinsi yang hingga kini belum dapat memastikan penyebab utama wabah diare di Ambon. Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Ambon Hans Liasay saat dikonfirmasi mengatakan, masih melakukan penelitian terhadap penyebab penyakit diare yang telah memakan korban tiga anak balita dan ratusan anak yang saat ini masih terbaring di sejumlah rumah sakit di Ambon. Sedangkan, Pjs Direktur PT. DSA Fery Tetelepta hingga berita ini diturunkan masih sulit ditemui. Bahkan, PT DSA dijaga ketat beberapa pemuda berbadan kekar. "Pimpinan tidak ada. Nanti saja," kata salah satu pemuda.
(umi/)











































