Pasca Ditahan Polisi, FIPS Serahkan Bantuan Pengungsi Suriah di Istanbul

Laporan dari Istanbul

Pasca Ditahan Polisi, FIPS Serahkan Bantuan Pengungsi Suriah di Istanbul

M Iqbal - detikNews
Rabu, 03 Jun 2015 03:02 WIB
Pasca Ditahan Polisi, FIPS Serahkan Bantuan Pengungsi Suriah di Istanbul
Foto: FIPS Serahkan Bantuan (Iqbal/detikcom)
Istanbul - Sebanyak 10 orang WNI yang tergabung dalam rombongan Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS), ditahan pihak kepolisian Turki di Bandara Ataturk Istanbul, saat hendak terbang ke Provinsi Hatay. Rombongan berencana menyerahkan bantuan bagi pengungsi Suriah di Hatay, namun akibat penahanan rencana itu dibatalkan.

โ€ŽKeputusan pembatalan itu setelah ada komunikasi antara KJRI Istanbul dengan pihak KBRI Turki dengan rombongan. KBRI merekomendasikan agar tidak melanjutkan perjalanan ke Hatay dengan alasan keamanan, meski polisi mengizinkan.

"Sedianya kami akan memberikan bantuan di Hatay, tapi karena ada beberapa halangan saat kami pergi ke Hatay yaitu terjadi kesalahpahaman dengan pihak keamanan bandara sehingga penerbangan kami ke Hatay terhalang," kata Sekjen Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) Wisnu Teguh di Istanbul Turki, Selasa (2/5/2015).

Wisnu mengatakan, meski begitu pihaknya tetap menyerahkan bantuan untuk pengungsi di Suriah. Bantuan diberikan dalam bentuk uang melalui seorang Direktur Rumah Rakit Salma di Latakia, Suriah yaitu dokter Rami Habib.

"Bantuan dari Indonesia (untuk RS Salma) ini sudah kami realisasikan. Ini yang ketiga kalinya dari FIPS, untuk bangunan rumah sakit dan ambulan yang rusak terkena bom oleh rezim," ucapnya.

Sementara itu, dokter Rami yang datang ke Istanbul dari Suriah, menyampaikan ucapan terima kasihnya atas donasi yang diberikan rakyat Indonesia melalui FIPS dan lembaga yang dinaunginanya seperti ACT, KISPA dan lainnya.โ€Ž

"Ada sekitar 60 pasien setiap hari yang datang ke rumah sakit kami baik anak-anak, perempuan, laki-laki. Dan ada sekitar 100 orang tiap lainnya yang setiap hari datang membutuhkan obat-obatan," ucap dokter ahli pediatri tersebut.

Rumah sakit yang dipimpinnya merupakan flat atau bangunan pemukiman yang diubah menjadi rumah sakit. Rumah sakit itu menanangani warga yang cedera atau tewas karena serangan tentara rezim Presiden Bashar yang menolak revolusi Suriah. Lataqia sendiri daerah yang tidak aman.

"Jarak dari rumah sakit kami ke pasukan rezim hanya sekitar 2 Km. Mereka memiliki tank, heli dan lainnya. Setiap hari pasti ada peperangan," ucapnya.



(M Iqbal/Bagus Prihantoro Nugroho)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads