Saat masih di sekolah menengah, Mochtar pernah menjadi anggota Tentara Pelajar hingga tercapai gencatan senjata antara RI dan Belanda pada 3 Agustut 1949, pasca Perjanjian Roem Roijen. Mochtar pun kembali ke keluarganya yang tengah mengungsi di
Cirebon.
"Dia datang bawa ransel di punggungnya pakai baju putih celana pendek sepatu boot dan kacamata bundar," kenang Sarwono seperti dikutip detikcom dari Majalah Detik edisi 183 pekan ini, Selasa (2/6/2015). Dalam hatinya ia membatin, "Oh ini to abang saya".
Lebih lanjut Sarwono yang pernah menjadi menteri di era Orde Baru dan awal reformasi itu menilai sosok sang kakak sebagai pribadi yang sangat giat berusaha. Dia menjadi satu-satunya anak muda yang punya motor di linkungan Gang Sentiong, Jakarta
Pusat, tempat mereka tinggal.
Sementara mantan Menteri Pertahanan Prof Juwono Sudarsono yang masih sepupuan, mengenang Mochtar sebagai pribadi mandiri. "Sebelum menjadi dosen, dia pernah menjadi penyiar di RRI sambil berjualan dolar di pinggir jalan di kawasan Pasar Baru,"
ujarnya.
Meski sang ayah banyak bergaul dengan para aktivis dan politisi, Mochtar justru lebih fokus pada pendidikan seperti sang ibu. Kalau soal tegas dalam prinsip dan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, menurut Sarwono, menurun dari ayah mereka.
"Kalau dia tidak suka sesuatu, dia pasti terang-terangan ngomong tanpa basa-basi. Tapi dia juga punya humor jadi orang yang terima kata-kata itu terpaksa ikut ketawa juga," ujar Sarwono. Cerita selengkapnya tentang sosok Mochtar Kusumaatmadja bisa dibaca di Majalah Detik edisi 183 pekan ini.
(Sudrajat/Erwin Dariyanto)











































