Apa sebenarnya yang membuat mereka ditahan?
"Kami dihubungi kepala polisi counter terorisme (Istanbul), kalau ada WNI ditahan di bandara," kata Pelaksana Fungsi Protokol dan Konsuler KJRI Istanbul, Maya Damayanti di Bandara Ataturk, Istanbul, Senin (1/5/2015).
"Berdasarkan laporan polisi yang saya terima, disebutkan ada laporan salah satu penumpang mendengar percakapan di antara kalian terkait ISIS. Saya nggak tahu siapa, nggak dijelaskan. Lalu lapor kabin, kabin melapor ke pilot, dan pilot melapor ke polisi," imbuhnya.
10 WNI yang dipaksa turun dari pesawat itu adalah 4 orang panitia, 3 tokoh organisasi Indonesia, dan 3 jurnalis termasuk detikcom yang diundang meliput. Tak dirinci siapa yang berbicara mengenai ISIS di dalam pesawat, karena seluruh anggota rombongan mengaku tak berbicara itu.
Namun tak hanya soal ISIS, Maya mengatakan penahanan juga terkait dengan tujuan rombongan ke provinsi Hatay. Provinsi itu berbatasan langsung dengan Suriah dan kerap digunakan jalur masuk ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.
"Tidak semua WNI (yang ke provinsi perbatasan) diduga seperti itu (terkait ISIS -red). Kalau ke perbatasan akan jadi pertanyaan, kan banyak turis dan WNI di sini. Kalau sudah mau ke daerah perbatasan akan ditanya," tuturnya.
"Bukan hanya Hatay, tapi memang masalah perbatasan Suriah masalah yang sensitif. Jadi pemerintah Turki sudah mewanti-wanti harus ada izin dulu, apalagi ada jurnalis, harus ada izin jurnalis," imbuh Maya.
Izin dimaksud adalah komunikasi panitia dan pihak KBRI Turki yang belum tuntas karena masalah teknis. Namun panitia sudah berkomunikasi dan bertemu dengan KJRI Istanbul sebelum rombongan sampai di Turki.
Begitu juga panitia pun sudah menemui Wamenlu sebelum ke Turki. Tak hanya itu, keberangkatan rombongan kemanusiaan itu dilepas pimpinan DPR Fadli Zon dan Fahri Hamzah. Fadli bahkan turut memberikan donasi yang cukup besar agar diberikan ke pengungsi Suriah di Turki.
"Kemlu sudah menginformasikan semua bantuan kemanusian harus melewati pemerintah saja, karena pemerintah Turki mintanya tidak perorangan karena kodisi tidak aman," ucap Maya.
Sebelumnya, 10 WNI itu dipaksa turun dari pesawat saat akan lepas landas di Bandara Ataturk, Istanbul. Pesawat hanya berjarak beberapa meter dari landasan pacu saat petugas polisi bersenjata dan pihak keamanan bandara masuk ke dalam pesawat dan meminta rombongan WNI turun.
Turut diminta turun juga dua orang warga Suriah yaitu ulama Abdullah Mustafa Rahhal dan anaknya Hasan Mustafa Rahhal. Keduanya pernah ditemui rombongan untuk berdiskusi mengenai perkembangan krisis Suriah. Secara kebetulan bertemu di pesawat.
Rombongan WNI lalu diinterogasi di kantor kepolisian bandara. Seluruh HP, kamera, laptop, dan recorder disita, termasuk paspor dan barang bawaan. Interogasi mengarah pada pertanyaan tentang ISIS. Setelah 4 jam ditahan, seluruh rombongan dibebaskan dan dipersilakan melanjutkan penerbangan ke Hatay.
Namun setelah berkomunikasi dengan KBRI, tim memutuskan membatalkan agenda ke Hatay. Sekedar diketahui, rencana ke Hatay untuk memberikan bantuan donasi bagi pengungsi Suriah melalui dokter Suriah yang berada di Hatay.
Di Hatay, tim juga semula akan bertemu perwakilan organisasi kemanusiaan terbesar di Turki IHH soal kondisi pengungsian dan krisis di Suriah secara umum. Krisis di Suriah itu tak banyak disorot di Indonesia karena lebih banyak membahas ISIS ketimbang warga Suriah yang ditindas rezim.
(M Iqbal/Ikhwanul Khabibi)











































