"Namanya Eno dan Azis, dan pihak keluarga keduanya sudah meyakini jika keduanya anggota keluarganya," kata Karoops Polda Sulteng Kombes Heri Rudolf Nahak kepada detikcom, Selasa (2/6/2015)
Setelah keduanya tertembak dalam operasi tersebut, petugas Densus 88 Polri, Satgas Anti-Teror dan Polda Sulteng yang terlibat dalam opersi, membawa jenazah keduanya ke RS Bhayangkara, pada Minggu (25/5) malam lalu.
"Hari Seninnya, keluarga datang dan mengkonfirmasi itu anggota keluarga mereka. Jenazah sudah dibawa dan sudah dikubur juga oleh pihak keluarganya pada saat itu juga," tuturnya.
Eno merupakan eksekutor bom di Pantangolemba, tanggal 25 Februari 2014 silam. Ia juga terlibat dalam kontak senjata di Padanglembara tanggal 6 Februari 2014. Pria yang juga mengikuti tadrib asykari ini bergabung dengan kelompok Santoso dan Daeng Koro sejak awal 2014.
"Dia juga ikut membuat 6 jergen isi 35 liter bahan peledak jenis UN yang ditemukan di pondok umat Lape pada tanggal 31 Desember 2013," imbuhnya.
Eno juga terlibat dalam kontak senjata dengan aparat polisi di Pondok Jumrin, Impo Padanglembara da terlibat dalam pembunuhan Fadli Taunca.
Sementara Azis alias Papa Sifa diketahui terlibat dalam pemmbunuhan Agta Andi Sapa dan Sudirman di Tamanjeka pada Oktober 2012. Ia merupakan penunjuk jalan di hutan-hutan yang juga ditunjuk sebagai tim inti penjemput akomodasi dan senjata ataupun orang-orang yang akan bergabung dengan kelompok Santoso.
"Azis ini juga mengkoordinir ikhwan-ikhwan Masamba untuk antar logistik dan persenjataan," tuturnya.
Dalam operasi ini, tim gabungan menyita 2 pucuk senjata api M 16 dan 670 butir peluru kaliber 55 mm serta bomm lontong. Selain menembak mati 2 anggota teroris, 2 angggota Densus 88 juga mengalami luka dalam operasi ini.
(Mei Amelia R/Ikhwanul Khabibi)











































